MAKALAH BIOKIMIA ANGKATAN 2014
UNIVERSITAS PALANGKA RAYA 
KALIMANTAN TENGAH
 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
Protein (protos yang berarti ”paling utama”) adalah senyawa organik kompleks yang mempunyai bobot molekul tinggi yang merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu sama lain dengan ikatan peptida. Peptida dan protein merupakan polimer kondensasi asam amino dengan penghilangan unsur air dari gugus amino dan gugus karboksil.
Asam amino adalah asam karboksilat yang mempunyai gugus amino. Asam amino yang terdapat sebagai komponen protein mempunyai gugus –NH2 pada atom karbon α dari posisi gugus –COOH. Jenis-jenis asam amino, urutan cara asam amino tersebut terangkai, serta hubungan spasial asam-asam amino tersebut asan menentukan struktur 3 dimensi dan sifat-sifat biologis protein sederhana.
Protein diserap usus dalam bentuk asam amino yang digunakan untuk mengganti jaringan yang telah rusak atau membentuk jaringan baru. Sebagian asam amino akan dipecah menjadi energi atau diolah menjadi zat yang mengandung unsur nitrogen juga zat yang tidak mengandung unsur nitrogen. Hasil akhir dari metabolisme protein adalah air dan karbondioksida.
Protein sangat esensial bagi kehidupan karena zat tersebut merupakan protoplasma aktif dalam semua sel hidup. Protein adalah zat organik yang mengandung unsur Karbon (C), Hidrogen (H), Nitrogen (N), Oksigen (O), Sulfur (S) dan Fosfor (P). Komposisi dasar dari protein adalah sebagai berikut : Karbon : 51 – 55 % Hidrogen : 6,5 – 7,3 % Nitrogen : 15,5 – 18 % Oksigen : 21,5 – 23.5 % Sulfur : 0,5 – 2 % Fosfor : 0,1 – 1,5 %. Dai pembahasan diatas akan dijelaskan lebih lanjut mengenai protein baik dari definisi, sejarah sampai rekasi-rekasi yang terjadi dalam protein.

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut:
1.        Apa definisi dari Protein?
2.        Bagaimana sejarah penemuan protein?
3.        Bagaimana ciri-ciri dari protein dan sifat-sifatnya?
4.      Apa saja fungsi dari protein?
5.      Apa saja jenis-jenis dari protein itu?
6.      Apa saja sumber-sumber pembentuk protein?
7.      Bagaimana proses terbentuknya protein?
8.      Bagaimana struktur molekul dan pengelompokkan protein?
9.      Bagaimana metode pembuktian protein?
10.  Apa saja penyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan protein?
11.  Apa saja reaksi-reaksi pada protein?
                                                                                              
1.3  Manfaat Penulisan
Dari rumusan masalah diatas dapat ditarik manfaat penulisan makalah ini sebagai berikut:
1.      Mengetahui definisi dari protein
2.      Mengetahui sejarah penemuan
3.      Mengetahui ciri-ciri dari protein dan sifat-sifat dari protein itu sendiri
4.      Mengetahui Mengetahui fungsi-fungsi dari protein
5.      Mengetahui jenis-jenis dari protein
6.      Mengetahui sumber-sumber pembentuk protein
7.      Mengetahui proses terbentuknya protein
8.      Mengetahuistruktur molekul dan pengelompokkan protein
9.      Mengetahuimetode pembuktian protein
10.  Mengetahuipenyakit yang ditimbulkan akibat kekurangan protein
11.  Mengetahuireaksi-reaksi pada protein.










BAB I
PEMBAHASAN

2.1Pengertian dan Sejarah Penemuan Protein
Protein merupakan salah satu dari biomolekul raksasa, selain polisakarida, lipid, dan polinukleotida, yang merupakan penyusun utama makhluk hidup.Protein makromolekul yang unik sekaligus memiliki struktur yang kompleks. Meskipun protein hanya tersusun atas asam amino yang ada 20 jenis saja, namun untuk dapat berfungsi, ia akan melipat-lipat dan membentuk suatu struktur tertentu yang sangat presisi sekaligus sulit diprediksi hingga saat ini. Karena strukturnya yang unik dan presisi itulah maka protein memiliki fungsi yang spesifik yang berbeda satu dengan lainnya.          
Protein adalah suatu senyawa organik yang berbobot molekul tinggi dan tersusun dari unsur C, H, O dan N serta unsur lain seperti P dan S yang akan membentuk struktur unit asam amino. Asam amino cukup banyak ditemukan di alam, cuma sekitar 20 jenis asam amino yang menyusun suatu rantai protein dengan struktur kimia berupa rantai aromatik, alifatik, dan heterosiklik atau menProtein merupakan polimer yang panjang dari asam-asam amino yang bergabung melalui ikatan peptida. Komposisi rata-rata unsur kimia yang terdapat dalam protein adalah karbon 55%, hidrogen 7%, oksigen 23%, nitrogen 16%, sulfur 1% dan kurang dari 1% fosfor (Winarno, 1991; Tarigan, 1983).urut gugus R yang ada.
2.2 Sejarah Penemuan Protein
Protein ditemukan oleh Jons Jacob Barzelius pada tahun 1838.Sedangkan istilah Protein diperkenalkan oleh Murder, seorang pakar kimia dari Belanda. Ia merupakan satu dari orang-orang pertama yang mempelajari kimia dalam protein secara sistematik. IA secara tepat menyimpulkan peranan inti dari protein dalam sistem mahluk hidup dengan menurunkan nama dari bahasa Yunani proteios, yang berarti “ bertingkat satu”.
2.3 Ciri-ciri dan sifat-sifat protein
a. Ciri-ciri protein:
            Protein diperkenalkan sebagai molekul makro pemberi keterangan, karena urutan asam amino dari protein tertentu mencerminkan keterangan genetik yang terkandung dalam urutan basa dari bagian yang bersangkutan dalam DNA yang mengarahkan biosintesis protein.
Ciri-ciri Molekul Protein
Beberapa ciri-ciri utama protein:
1. Berat molekulnya besar, ribuan sampai jutaan sehingga merupakan suatu makro molekul.
2. Umumnya terdiri dari 20 macam asam amino.
3. Terdapat ikatan kimia lain yang menyebabkan terbentuknya lengkungan-lengkungan rantai polipeptida menjadi struktur tiga dimensi protein.
4. Strukturnya tidak stabil terhadap beberapa faktor seperti pH, radiasi, temperatur, medium pelarut organik dan deterjen.
5. Umumnya reaktif dan sangat spesifik, disebabkan terdapatnya gugusan samping yang reaktif dan susunan khas struktur makromolekul (Ellya, 2010).
Tiap jenis protein ditandai dengan ciri-cirinya oleh :
1.      Susunan kimia yang khas
Setiap protein individual merupakan senyawa murni
2.      Bobot molekular yang khas
Semua molekul dalam suatu contoh tertentu dari protein murni mempunyai bobot molekular yang sama. Karena molekulnya yang besar maka protein mudah sekali mengalami perubahan fisik ataupun aktivitas biologisnya.
3.      Urutan asam amino yang khas
Urutan asam amino dari protein tertentu adalah terinci secara genetik. Akan tetapi, perubahan-perubahan kecil dalam urutan asam amino dari protein tertentu (Page, D.S. 1997)
b. Sifat-sifat protein:
1. Ionisasi yaitu apabila protein larut di dalam air akan membentuk ion positif dab ion  negative.
2. Denaturasi yaitu perubahan konformasi serta posisi protein sehingga aktivitasnya berkurang atau kemampuannya menunjang aktivitas organ tertentu dalam tubuh hilang sehingga tubuh mengalami keracunan.
3. Viskositas yaitu tahanan yang timbul oleh adanya gesekan antara molekul di dalam zat cair yang mengalir.
4. Kristalisasi yaitu proses yang sering dilakukan dengan jalan penambahan garam ammonium sulfat atau NaCl pada larutan dengan pengaturan PH pada titik isoelektriknya.
5. Sistem koloid yaitu sistem yang heterogen terdiri atas dua fase yaitu partikel kecil yang terdispersi dari medium pendispersi atau pelarutnya.
2.4 Fungsi Protein
Fungsi protein di dalam tubuh kita sangat banyak, bahkan banyak dari proses pertumbuhan tubuh manusia dipengaruhi oleh protein yang terkandung di dalam tubuh kita
1.      Sebagai Enzim
Hampir semua reaksi biologis dipercepat atau dibantu oleh suatu senyawa makromolekul spesifik yang disebut enzim, dari reaksi yang sangat sederhana seperti reaksi transportasi karbon dioksida sampai yang sangat rumit seperti replikasi kromosom. Protein besar peranannya terhadap perubahan-perubahan kimia dalam sistem biologis.
2.      Alat Pengangkut dan Penyimpan
Banyak molekul dengan MB kecil serta beberapa ion dapat diangkut atau dipindahkan oleh protein-protein tertentu. Misalnya hemoglobin mengangkut oksigen dalam eritrosit, sedangkan mioglobin mengangkut oksigen dalam otot. Pengatur pergerakan Protein merupakan komponen utama daging, gerakan otot terjadi karena adanya dua molekul protein yang saling bergeseran.
3.      Penunjang Mekanis
Kekuatan dan daya tahan robek kulit dan tulang disebabkan adanya kolagen, suatu protein berbentuk bulat panjang dan mudah membentuk serabut. Pertahanan tubuh atau imunisasi Pertahanan tubuh biasanya dalam bentuk antibodi, yaitu suatu protein khusus yang dapat mengenal dan menempel atau mengikat benda-benda asing yang masuk ke dalam tubuh seperti virus, bakteri, dan sel- sel asing lain.
4.      Media Perambatan Impuls Syaraf
Protein yang mempunyai fungsi ini biasanya berbentuk reseptor, misalnya rodopsin, suatu protein yang bertindak sebagai reseptor penerima warna atau cahaya pada sel-sel mata.
5.      Pengendalian Pertumbuhan
Protein ini bekerja sebagai reseptor (dalam bakteri) yang dapat mempengaruhi fungsi bagian-bagian DNA yang mengatur sifat dan karakter bahan.

2.5 Jenis-jenis Protein
Jenis-jenis dari protein yaitu sebagai berikut :
1.      Kolagen, protein struktur yang diperlukan untuk membentuk kulit, tulang dan ikatan tisu.
  1. Antibodi, protein sistem pertahanan yang melindungi badan daripada serangan penyakit.
  2. Dismutase superoxide, protein yang membersihkan darah kita.
  3. Ovulbumin, protein simpanan yang memelihara badan.
  4. Hemoglobin, protein yang berfungsi sebagai pembawa oksigen
  5. Toksin, protein racun yang digunakan untuk membunuh kuman.
  6. Insulin, protein hormon yang mengawal aras glukosa dalam darah.
  7. Tripsin, protein yang mencernakan makanan protein.
2.6 dan 2.7 pun kam wahi ae
2.8  Struktur Molekul Protein
Struktur protein dapat dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu struktur primer, sekunder, tersier, dan kuartener.
1.    Struktur primer
Struktur ini merupakan struktur yang paling sederhana, berupa suatu linear (rantai lurus) asam amino. Pembentukan ikatan peptide antara satu asam amino dengan asam amino yang lain mengakibatkan tiap asam amino kehilangan gugus amino dan karboksil akan berbeda diujung-ujung rantai polipeptida.


Struktur primer protein bisa ditentukan dengan beberapa metode :
·         hidrolisis protein dengan asam kuat (misalnya, 6N HCl) dan kemudian komposisi asam amino ditentukan dengan instrumenamino acid analyzer.
·         analisis sekuens dari ujung-N dengan menggunakan degradasi Edman.
·         kombinasi dari digesti dengan tripsin dan spektrometri massa, dan
·         penentuan massa molekular dengan spektrometri massa.
2. Struktur sekunder
Pada struktur sekunder, asam-asam amino yang menyusun protein dihubungkan oleh ikatan peptida dan ikatan hidrogen. Oleh karena itu rantai polipeptida yang terbentuk tidak berupa lantai lurus, melainkan berbentuk rantai terpilin ().

Berbagai bentuk struktur sekunder misalnya ialah sebagai berikut :
·         alpha helix (α-helix, "puntiran-alfa"), berupa pilinan rantai asam-asam amino berbentuk seperti spiral.
·         beta-sheet (β-sheet, "lempeng-beta"), berupa lembaran-lembaran lebar yang tersusun dari sejumlah rantai asam amino yang saling terikat melalui ikatan hidrogen atau ikatan tiol (S-H).
·         beta-turn, (β-turn, "lekukan-beta"); dan
·         gamma-turn, (γ-turn, "lekukan-gamma").
3. Struktur tersier
Struktur tersier mrupakan yang lebih kompleks, karena adanya beberapa ikatan yang menghubungkan antara protein yang satu (struktur primer maupun sekunder) dengan protein yang lain.

Ikatan-ikatan yang mungkin adalah :
·         Ikatan hidrogen
·         Ikatan ionik (elektrostatik)
·         Ikatan disulfide
·         Ikatan hidrofolik, dan
·         Ikatan dipole atau ikatan hidrokfolik
4. Ikatan kuartener
Struktur kuartener terbentuk dari beberapa unit molekul protein tersier, membentuk satu molekul protein. Ikatan yang ada sama dengan pada struktur tersier. Protein yang mempunyai struktur ini biasanya merupakan globular. Contoh struktur kuartener yang terkenal adalah enzim Rubisco dan insulin.
2.9 Metode Pembuktian Protein
            Analisis protein dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu secara kualitatif dan secara kuantitatif. Analisis protein secara kualitatif terdiri atas reaksi Xantoprotein, reaksi Hopkins-Cole, reaksi Millon, reaksi Nitroprusida, reaksi Sakaguchi dan metode Biuret. Sedangkan analisis protein secara kuantitatif terdiri dari metode Kjeldahl, metode titrasi formol, metode Lowry, metode spektrofotometri visible (Biuret), dan metode spektrofotometri UV.

1.     Metode Pembuktian Protein Secara Kualitatif
1.     Reaksi Xantoprotein
Larutan asam nitrat pekat ditambahkan dengan hati-hati ke dalam larutan protein. Setelah dicampur terjadi endapan putih yang dapat berubah menjadi kuning apabila dipanaskan. Reaksi yang terjadi ialah nitrasi pada inti benzena yang terdapat pada molekul protein. Reaksi ini positif untuk protein yang mengandung tirosin, fenilalanin dan triptofan.

2.     ReaksiHopkins-Cole
Larutan protein yang mengandung triptofan dapat direaksikan dengan pereaksi Hopkins-Cole yang mengandung asam glioksilat. Pereaksi ini dibuat dari asam oksalat dengan serbuk magnesium dalam air.Setelah dicampur dengan pereaksi Hopkins-Cole, asam sulfat dituangkan perlahan-lahan sehingga membentuk lapisan di bawah larutan protein. Beberapa saat kemudian akan terjadi cincin ungu pada batas antara kedua lapisan tersebut.
                                 
3.     Reaksi Millon
Pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereaksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan. Pada dasarnya reaksi ini positif untuk fenol-fenol, karena terbentuknya senyawa merkuri dengan gugus hidroksifenil yang berwarna.

4.     Reaksi Natriumnitroprusida
Natriumnitroprusida dalam larutan amoniak akan menghasilkan warna merah dengan protein yang mempunyai gugus –SH bebas. Jadi protein yang mengandung sistein dapat memberikan hasil positif.



5.         Reaksi Sakaguchi
Pereaksi yang digunakan ialah naftol dan natriumhipobromit. Pada dasarnya reaksi ini memberikan hasil positif apabila ada gugus guanidin. Jadi arginin atau protein yang mengandung arginin dapat menghasilkan warna merah.

6.     Metode Biuret
Larutan protein dibuat alkalis dengan NaOH kemudian ditambahkan larutan CuSO4 encer. Uji ini untuk menunjukkan adanya senyawasenyawa yang mengandung gugus amida asam yang berada bersama gugus amida yang lain. Uji ini memberikan reaksi positif yaitu ditandai dengan timbulnya warna merah violet atau biru violet.

2.     Metode Pembuktian Protein Secara Kuantitatif
Analisis protein dapat digolongkan menjadi dua metode, yaitu: Metode konvensional, yaitu metode Kjeldahl (terdiri dari destruksi, destilasi, titrasi), titrasi formol. Digunakan untuk protein tidak terlarut.Dan  Metode modern, yaitu metode Lowry, metode spektrofotometri visible, metode spektrofotometri UV. Digunakan untuk protein terlarut.

1.             Metode Kjeldahl
Metode ini merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein, dan senyawa yang mengandung nitrogen. Sampel didestruksi dengan asam sulfat dan dikatalisis dengan katalisator yang sesuai sehingga akan menghasilkan amonium sulfat. Setelah pembebasan alkali dengan kuat, amonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi.


2.             Metode Titrasi Formol
Larutan protein dinetralkan dengan basa (NaOH) lalu ditambahkan formalin akan membentuk dimethilol. Dengan terbentuknya dimethilol ini berarti gugus aminonya sudah terikat dan tidak akan mempengaruhi reaksi antara asam dengan basa NaOH sehingga akhir titrasi dapat diakhiri dengan tepat. Indikator yang digunakan adalah p.p., akhir titrasi bila tepat terjadi perubahan warna menjadi merah muda yang tidak hilang dalam 30 detik.



3.             Metode Lowry
Pembuatan reagen Lowry A : Merupakan larutan asam fosfotungstat-asam fosfomolibdat dengan perbandingan (1:1). Pembuatan reagen Lowry B :Campurkan 2% natrium karbonat dalam 100 ml natrium hidroksida 0,1N. Tambahkan ke dalam larutan tersebut 1 ml tembaga (II) sulfat 1% dan 1 ml kalium natrium tartrat 2%.
4.      Metode Spektrofotometri Visible (Biuret)

5.             Metode Spektrofotometri UV
Asam amino penyusun protein diantaranya adalah triptofan, tirosin dan fenilalanin yang mempunyai gugus aromatik. Triptofan mempunyai absorbsi maksimum pada 280 nm, sedang untuk tirosin mempunyai absorbsi maksimum pada 278 nm. Fenilalanin menyerap sinar kurang kuat dan pada panjang gelombang lebih pendek. Absorpsi sinar pada 280 nm dapat digunakan untuk estimasi konsentrasi protein dalam larutan. Supaya hasilnya lebih teliti perlu dikoreksi kemungkinan adanya asam nukleat dengan pengukuran absorpsi pada 260 nm. Pengukuran pada 260 nm untuk melihat kemungkinan kontaminasi oleh asam nukleat. Rasio absorpsi 280/260 menentukan faktor koreksi yang ada dalam suatu tabel.
2.10 Penyakit Akibat Kekurangan Protein
Protein sendiri mempunyai banyak sekali fungsi di tubuh kita. Pada dasarnya protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh, proses kekebalan tubuh. Setiap orang dewasa harus sedikitnya mengkonsumsi 1 g protein per kg berat tubuhnya. Kebutuhan akan protein bertambah pada perempuan yang mengandung dan atlet- atlet. Kekurangan Protein bisa berakibat fatal, diantaranya sebagai berikut :
1. Marasmus
Marasmus merupakan bentuk kekurangan gizi buruk, yang paling banyak ditemui pada bayi dibawah usia 12 bulan. Penyebabnya bisa terjadi karena kekurangan protein yang sering disertai dengan gejala kekurangan karbohidrat. Penyakit ini tentu cukup berbahaya jika diderita, sebab dapat menggiring penderitanya pada kematian.
Ciri-ciri :
Berat badan kurang dari 60% dari berat badan yang seharusnya.
Suhu tubuh menjadi rendah.
Kulit di tubuh melonggar dan mengkerut sehingga bentuk tulang sangat nampak.
Berwajah lonjong dan tampak lebih tua.
Perut berbentuk cekung yang biasa disertai dengan diare.
Kehilangan nafsu makan.
2. Kwashiorkor
Penyakit kwashiorkor ini merupakan penyakit yang bisa terjadi akibat kekurangan protein. Berbeda dengan marasmus, penyakit ini paling banyak ditemukan pada anak-anak usia 1 hingga 3 tahun. Apabila pada marasmus tubuh penderitanya cenderung kurus, maka pada kwashiorkor penampilan dari penderita terlihat normal.
Walaupun begitu, penyakit ini harus diwaspadai sebab jika tidak maka anak-anak pertumbuhannya akan terhambat bahkan bisa mengalami cacat mental, seperti ADHD pada anak.
Ciri-ciri :
Mengalami kelelahan yang tinggi
Terjadi pembengkakan pada perut, juga pada punggung kaki dan tangan
Sering mengalami diare
Berwajah bulat
Pandangan mata sayu
Rambut menjadi kusam, tipis hingga kemerahan dan gampang dicabut
Kehilangan nafsu makan dan gampang rewel
Hati berlemak dan membesar
Kekeringan pada kulit hingga bersisik dan pecah-pecah
Luka sulit untuk sembuh
Sering disertai dengan infeksi yang akut
Anemia dan xeroftalmia
3. Cachexia
Penyakit cachexia merupakan penyakit yang menyerang seseorang akibat kekurangan protein. Menurut American Journal of Clinical Nutrition, penyakit ini dapat menyebabkan penurunan berat badan, penyakit kanker, gagal ginjal, penyakit menular AIDS,  bahkan kematian apabila tidak ditangani dengan baik.
Ciri-ciri :
Kerap merasa lelah walaupun hanya beraktifitas ringan.
Menipisnya otot rangka.
Terjadinya degradasi protein.
Berat badan menurun secara yang ekstrim.
4. Gagal Hati
Gagal hati adalah merupakan penyakit yang menyebabkan kerusakan dan kehilangan fungsi hati akibat ketidakmampuan sel hati untuk beregenerasi. Hal ini juga menjadi penyakit akibat kekurangan protein. Karena menimbulkan hal yang membahayakan, maka kondisi ini sangat memerlukan penanganan medis.
Ciri-ciri :
Merasa mual
Nafsu makan menghilang
Sering mengalami rasa lelah
Kulit dan mata menguning jika telah mencapai tahap akut
Pembengkakan pada perut
Mengalami diare
Gampang memar dan berdarah
5. Apati
Definisi dari apati yaitu suatu kondisi yang menyebabkan emosi menjadi tumpul. Efek penyakit akibat kekurangan protein ini, bisa mempengaruhi tingkah laku dan fungsi kognitif. Biasanya, apati sering disertai dengan depresi. Namun, kedua hal ini berbeda. Jika depresi berupa gangguan emosi, maka apati berupa gangguan motivasi.
Ciri-ciri :
Kurangnya usaha sehingga sering bergantung pada orang lain
Tidak ada keinginan untuk belajar hal-hal baru
Kurang peduli terhadap masalah
Fluktuasi emosi tidak terjadi
Kurangnya respon terhadap suatu peristiwa atau kejadian
6. Edema
Penyakit edema ini merupakan nama lain dari retensi air, yakni penyakit kekurangan protein yang paling sering diderita manusia. Jika darah yang mengalir pada tubuh tidak memiliki protein yang cukup, maka seseorang bisa mengalami gejala tekanan darah rendah sehingga gampang pusing, lemas dan malas beraktifitas.
Akibatnya, genre darah yang tidak mengandung protein dapat membentuk jaringan pada sekitar pembuluh darah yang mirip dengan gumpalan air. Jaringan inilah yang biasa disebut dengan edema.
Ciri-ciri :
Pembengkakan pada kulit dan kadang terasa kenyal
Kadang disertai nyeri atau tidak
Kadang disertai demam atau tidak
7. Rambut Rontok
sponsored links
Rambut yang rontok secara tidak normal bisa terjadi akibat tubuh kekurangan protein. Ketika ratusan helai rambut mengalami kerontokan tiap harinya, maka ini merupakan tanda bahwa seseorang sedang mengalami penyakit rambut rontok. Hal ini tentu saja tidak bisa dianggap sepele, sebab lama-kelamaan dapat membuat kepala menjadi botak, bahkan sulit untuk tumbuh kembali.
Ciri-ciri :
Rambut mudah lepas saat menyisir ataupun saat keramas
Banyak rambut berguguran saat bangun tidur
Banyaknya rambut yang menempel pada baju yang dikenakan
8. Gangguan Otak
Otak merupakan pusat saraf manusia agar dapat berpikir serta mampu menggerakkan tubuh. Jika seseorang kekurangan protein, maka kecepatan berpikir orang tersebut akan menjadi rendah bahkan sehingga bisa mengakibatkan gangguan yang parah atau fatal. Misalnya saja seperti berkurangnya kecepatan motorik, mudah stres atau depresi, dan lainnya.
9. Penyakit Jantung
Jantung yang berdetak dalam tubuh manusia ternyata sangat membutuhkan protein. Sebab, jika tubuh seseorang kekurangan protein, maka denyut jantung yang bisa dihasilkan sangat rendah yaitu dibawah 60 kali denyutan dalam satu menit.
Ciri-ciri :
Sering mengalami sesak nafas
Biasa mengalami gejala batuk
Nafsu makan menjadi berkurang
Gampang lelah atau lemas

10. Kelelahan
Tubuh yang sering mengalami kelelahan merupakan salah satu tanda bahwa seseorang kekurangan protein. Jika protein ini tidak cukup untuk tubuh, maka jaringan otot yang mengalami kelelahan bisa rusak sehingga tidak dapat melakukan regenerasi.
Adapun beberapa hal membahayakan yang ditimbulkan oleh kelelahan ini seperti kram, rheumatik dan lainnya.
Ciri-ciri :
Gampang merasa resah.
Sering jatuh tertidur saat sedang duduk atau saat melakukan aktifitas.
Merasa kurang keseimbangan pada tubuh.
Mudah marah.
Sulit berkonsentrasi.
Penyakit Akibat Kelebihan Protein
Walaupun protein sangat penting bagi tubuh, namun bukan berarti mengkonsumsi protein dalam jumlah yang banyak bisa menyehatkan tubuh. Ternyata, mengkonsumsi protein berlebih juga tidak baik bagi kesehatan, bahkan dapat menimbulkan penyakit.
Adapun beberapa penyakit yang bisa ditimbulkan apabila berlebihan dalam mengkonsumsi protein adalah:
Kelebihan protein pada tubuh, dapat menyebabkan seseorang mengalami gagal ginjal. Sebab, mengkonsumsi protein yang berlebih, maka akan membuat ginjal terpaksa bekerja lebih ekstra untuk membuang semua kelebihan nitrogen pada tubuh dan akhirnya membuat seseorang mengalami gagal ginjal.
Selain itu, jika hal ini terjadi, maka akan mengakibatkan kadar urea menjadi tinggi, sehingga bisa menyebabkan masalah asam urat.
Ciri-ciri:
Kepala terasa pusing hingga sulit untuk berkonsentrasi
Merasa gatal sehingga meninggalkan ruam pada tubuh
Merasa kedinginan pada tubuh
Mengalami sesak nafas
Merasa sakit pada daerah sekitar pinggang
Penyakit akibat kekurangan protein maupun penyakit akibat kekurangannya ini, tentu saja bisa terjadi pada siapa saja. Sehingga kita perlu mewaspdainya dengan melakukan gaya hidup sehat terhadap pola makan yang mencukupi kebutuhan nutrisi protein ini.
2.13 Reaksi-reaksi Protein.
1. Reaksi Transminasi
            Transminasi merupakan reaksi pemindahan gugus -amino dari suatu asam amino menunjukan karbon  pada molakul -ketoglukarat, sehingga dihasilkan asam o, sebagai analog asam amino yang bersangkutan reaksinya dikatalisis oleh enzim transminase atau aminotransferase. Reaksi transminasi ini dapat menyebabkan reaksi aminasi asam -ketoglutarat, dan membentuk senyawa L-glutamat (gambar 3.9).
Tujuan keseluruhan reaksi transminasi adalah untuk mengumpulkan gugus amino dari berbagai asam amino lainnya kedalam bentuk satu senyawa asam amino L-glutamat.
2. Reaksi Deaminasi
            Asam amino glutamat mengalami deaminasi oksidatif dan aktivitas enzim L-glutamat dehidrogenase yang memerlukan NAD* sebagai penerima ekivalen pereduksi:                       






BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Protein merupakan senyawa terpenting dalam penyusunan sel hidup yang terdapat dalam semua jaringan hidup .Protein ditemukan oleh Jons Jacob Barzelius pada tahun 1838.Sedangkan istilah Protein diperkenalkan oleh Murder, seorang pakar kimia dari Belanda
2.      Beberapa ciri utama protein adalah :
1)      Berat molekul besar
2)      Umumnya terdiri atas 20 macam asam amino
3)      Terdapatnya ikatan kimia lain
4)      Strukturnya tidak stabil terhadap beberapa faktor seperti pH, radiasi, suhu, dll
5)      Umumnya reaktif dan sangat spesifik
3.      Sifat-sifat protein yaitu sebagai berikut :
1)      Ionisasi yaitu apabila protein larut di dalam air akan membentuk ion positif dab ion  negative
2)      Denaturasi yaitu perubahan konformasi serta posisi protein sehingga aktivitasnya berkurang atau kemampuannya menunjang aktivitas organ tertentu dalam tubuh hilang sehingga tubuh mengalami keracunan.
3)      Viskositas yaitu tahanan yang timbul oleh adanya gesekan antara molekul di dalam zat cair yang mengalir.
4)      Kristalisasi yaitu proses yang sering dilakukan dengan jalan penambahan garam ammonium sulfat atau NaCl pada larutan dengan pengaturan PH pada titik isoelektriknya.
5)      Sistem koloid yaitu sistem yang heterogen terdiri atas dua fase yaitu partikel kecil yang terdispersi dari medium pendispersi atau pelarutnya.
4.      Fungsi Protein
1)        Sebagai Enzim
2)        Alat Pengangkut dan Penyimpan
3)        Penunjang Mekanis
4)        Media Perambatan Impuls Syaraf
5)        Pengendalian Pertumbuhan
5.      Jenis-jenis protein yaitu sebgaai berikut :
1)        Kolagen
2)        Antibodi
3)        Dismutase superoxide,
4)        Ovulbumin,
5)        Hemoglobin,
6)        Toksin,
7)        Insulin,
8)        Tripsin,
6.      Struktur molekul protein yaitu Struktur polimer, sekunder, dan tersier
7.      Metode pembuktian protein terbagi menjadi 2 macam yaitu sebagai berikut :
1.Metode Pembuktian Protein Secara Kualitatif
      a. Reaksi Xantoprotein
      b. ReaksiHopkins-Cole
      c. Reaksi Millon
      d. Reaksi Natriumnitroprusida
      e. Reaksi Sakaguchi
      f. Metode Biuret
2.Metode Pembuktian Protein Secara Kuantitatif
      a. Metode Kjeldahl
      b. Metode Titrasi Formol
      c. Metode Lowry
      d.Metode Spektrofotometri Visible (Biuret)
      e. Metode Spektrofotometri UV
8.      Penyakit Akibat Kekurangan Protein
1)      Marasmu
2)      Kwashiorkor
3)      Cachexia
4)      Gagal Hati
5)      Apati
6)      Edema
7)      Rambut Rontok
8)       Gangguan Otak
9)      Penyakit Jantung
10)   Kelelahan
9.      Reaksi-reaksi pada protein yaitu :
1)      Reaksi Transminasi
Transminasi merupakan reaksi pemindahan gugus -amino dari suatu asam amino menunjukan karbon  pada molakul -ketoglukarat, sehingga dihasilkan asam o, sebagai analog asam amino yang bersangkutan reaksinya dikatalisis oleh enzim transminase atau aminotransferase.
2)      Reaksi Deaminasi
Asam amino glutamat mengalami deaminasi oksidatif dan aktivitas enzim L-glutamat dehidrogenase yang memerlukan NAD* sebagai penerima ekivalen pereduksi





DAFTAR PUSTAKA










·     









Komentar

Postingan populer dari blog ini

RANGKUMAN SENYAWA KOMPLEKS