TEKNIK PEMBELAJARAN INQUIRY
A.    INKUIRI PENGERTIAN STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI
merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
B.     CIRI-CIRI STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI
§  aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan
§  siswa tidak hanya berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri.
§  mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (Self belief). Dengan demikian, strategi pembelajaran
§  Aktivitas pembelajaran biasanya dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan siswa. Karena itu kemampuan guru dalam menggunakan teknik bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri
C.    TUJUAN STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI
§  kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental
D.    Prinsip-prinsip Pembelajaran Inkuiri
1.      Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
Tujuan utama dari strategi inkuiri adalah pengembangan kemampuan berpikir.
Interaksi
2.      Proses pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa maupun interaksi siswa dengan guru, bahkan interaksi antara siswa dengan lingkungan.
3.      Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi ini adalah guru sebagai “penanya” Mengembangkan sikap kritis siswa dengan selalu mempertanyakan segala fenomena yang ada.
4. Belajar untuk Berpikir
Belajar adalah proses berpikir yakni proses mengembangkan potensi seluruh otak secara optimal
5.      Keterbukaan
Pembelajaran yang bermakna adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai kemungkinan sebagai hipotesis yang harus dibuktikan kebenarannya. secara terbuka
E.     PROSEDUR PEMBELAJARAN INKUIRI
1.      ORIENTASI
Yaitu langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Guru mengkondisikan agar siswa siap melaksanakan proses pembelajaran. Guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah.
Langkah orientasi merupakan langkah yang sangat penting. Keberhasilan startegi ini sangat tergantung pada kemauan siswa untuk beraktivitas menggunakan kemampuannya dalam memecahkan masalah, tanpa kemauan dan kemampuan itu tak mungkin proses pembelajaran akan berjalan dengan lancar.
2.      MERUMUSKAN MASALAH
Merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. • Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu.
• Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat.
• Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting dalam strategi inkuiri, oleh sebab itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses berpikir.
3.      MERUMUSKAN HIPOTESIS
• Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji.
• Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Perkiraan sebagai hipotesis bukan sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang kokoh, sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan logis.
 • Kemampuan berpikir logis itu sendiri akan sangat dipengaruhi oleh kedalaman wawasan yang dimiliki serta keluasan pengalaman. Dengan demikian, setiap individu yang kurang mempunyai wawasan akan sulit mengembangkan hipotesis yang rasional dan logis
4.      MENGUMPULKAN DATA
Merupakan aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. • Dalam strategi pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual.
• Proses pengumpulan data bukan hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.. Tugas dan peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari informasi yang dibutuhkan
5.      MENGUJI HIPOTESIS
Yaitu proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. • Dalam menguji hipotesis yang terpenting adalah mencari tingkat keyakinan siswa atas jawaban yang diberikan. • Di samping itu, menguji hipotesis juga berarti mengembangkan kemampuan berpikir rasional. • Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi dan opini, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6.      MERUMUSKAN KESIMPULAN
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis . Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan .
F.     KEUNGGULAN
Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. Dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman. Menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
G.    KELEMAHAN
Sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar. Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang Selama kriteria keberhasiJan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka startegi ini akan sulit diimplementasikan
H.    Model Pembelajaran Inkuiri
INKUIRI DEDUKTIF
Inkuiri deduktif adalah model inkuiri yang permasalahannya berasal dari guru. Siswa dalam inkuiri deduktif diminta untuk menentukan teori/konsep yang digunakan dalam proses pemecahan masalah.
INKUIRI  INDUKTIF
• Inkuiri induktif adalah model inkuiri yang penetapan masalahnya ditentukan sendiri oleh siswa sesuai dengan bahan/materi ajar yang akan dipelajari
I.       Metode Pembelajaran Inkuiri
INKUIRI  TERBIMBING
Dalam proses belajar mengajar dengan metode inkuiri terbimbing, siswa dituntut untuk menemukan konsep melalui petunjuk-petunjuk seperlunya dari seorang guru.Petunjuk-petunjuk itu pada umumnya berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat membimbing (Wartono 1999). Selain pertanyaan-pertanyaan, guru juga dapat memberikan penjelasan-penjelasan seperlunya pada saat siswa akan melakukan percobaan, misalnya penjelasan tentang cara-cara melakukan percobaan. Metode inkuiri terbimbing biasanya digunakan bagi siswa-siswa yang belum berpengalaman belajar dengan menggunakan metode inkuiri. Pada tahap permulaan diberikan lebih banyak bimbingan, sedikit demi sedikit bimbingan itu dikurangi seperti yang dikemukakan oleh (Hudoyono 1979) bahwa dalam usaha menemukan suatu konsep siswa memerlukan bimbingan bahkan memerlukan pertolongan guru setapak demi setapak. Siswa memerlukan bantuan untuk mengembangkan kemampuannya memahami pengetahuan baru. Walaupun siswa harus berusaha mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi tetapi pertolongan guru tetap diperlukan.
INKUIRI  BEBAS
Metode ini digunakan bagi siswa yang telah berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Karena dalam pendekatan inkuiri bebas ini menempatkan siswa seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. Siswa diberi kebebasan menentukan permasalahan untuk diselidiki, menemukan dan menyelesaikan masalah secara mandiri, merancang prosedur atau langkah-langkah yang diperlukan.
INKUIRI BEBAS MODIFIKASI
Metode ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua strategi inkuiri sebelumnya, yaitu: pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas. Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk diselidiki tetap diberikan atau mempedomani acuan kurikulum yang telah ada. Artinya, dalam metode ini siswa tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri, namun siswa yang belajar dengan metode ini menerima masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap memperoleh bimbingan. Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari Inkuiri terbimbing dan tidak terstruktur.
Ragam Lain Pembelajaran Inkuiri
INKUIRI  SOSIAL
• Inkuiri sosial merupakan strategi pembelajaran dari kelompok sosial (social family) subkelompok konsep masyarakat (concept of society). Subkelompok ini didasarkan pada asumsi bahwa metode pendidikan bertujuan untuk mengembangkan anggota masyarakat ideal yang dapat hidup dan dapat mempertinggi kualitas kehidupan masyarakat. Karena itulah siswa harus diberi pengalaman yang memadai bagaimana caranya memecahkan persoalan-persoalan yang muncul di masyarakat. Melalui pengalaman itulah setiap individu akan dapat membangun pengetahuan yang berguna bagi  • inkuiri sosial pada dasarnya tidak berbeda dengan inkuiri pada umumnya. Perbedaannya terletak pada masalah yang dikaji adalah masalah-masalah sosial atau masalah kehidupan masyarakat.
PEMBELAJARAN BERDASARKAN  MASALAH
Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning) adalah suatu metode pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah sebagai titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru. (H.S. Barrows 1982). Berbeda  dengan  pembelajaran inkuiri yang lebih menekankan pada masalah akademik, dalam mengembangkan Pembelajaran Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning)  lebih  memfokuskan  pada masalah kehidupan nyata yang bermakna bagi siswa.
PEMBELAJARAN BERDASARKAN  PROYEK, 
METODE  LAINNYA  YANG SEJENISNYA SEBAGAI GENERIK  STRATEGI HEURISTIK

TEKNIK PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME

Batasan / Definisi Konstruktivisme :

-          merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan konstruksi (bentukan) kita sendiri, bukan imitasi dari kenyataan, bukan gambaran dunia kenyataan yang ada.
-          pengetahuan selalu merupakan akibat dari konstruksi kognitif dari kenyataan yang terjadi melalui serangkaian aktivitas seseorang (mahasiswa). Mahasiswa membentuk skema, kategori, konsep dan struktur pengetahuan yang diperlukan untuk pengetahuan.
-          Pengetahuan bukanlah tentang hal-hal yang terlepas dari pengamat, tetapi merupakan ciptaan manusia yang dikonstruksikan dari pengalaman atau dunia yang dialaminya
-          Proses pembentukan ini berjalan terus menerus, dan setiap kali terjadi reorganisasi atau rekonstruksi karena adanya pengalaman baru.

Pancaindera dan Konstruktivisme

-          Seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya melalui panca indranya, lalu menkonstruksi gambaran dunia pengalamannya itu.. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begita saja dari otak seseorang (dosen) ke kepala orang lain (mahasiswa). Mahasiswa sendirilah yang harus mengartikan apa yang dipelajarinya itu, dan menyesuaikannya dengan pengalaman atau hasil konstruksi yang telah mereka miliki/bangun sebelumnya.  Pengetahuan ada dalam diri seseorang yang sedang mengetahui. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang ( dosen) ke kepala orang lain (mahasiswa). Mahasiswa sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan itu dengan cara menyesuaikannya terhadap pengalaman-pengalaman atau konstruksi yang telah dibangunnya.sendiri dalam otaknya.

Pengalaman dan Konstruktivisme

-          Pengetahuan merujuk pada pengalaman seseorang akan dunia, tetapi bukan dunia itu sendiri.
-          Tanpa pengalaman, seseorang tidak dapat membentuk pengetahuan. Pengalaman bukan saja pengalaman fisik, tetapi juga pengealaman kognitif dan mental.
-          Pengetahuan dibentuk oleh struktur penerimaan konsep seseorang  ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya. Jadi bagi orang itu, lingkungan ialah semua objek dan proposisinya yang telah diabstraksikan ke dalam pengalaman orang itu. Abstraksi seseorang terhadap suatu hal akan membentuk struktur konsep, dan membentuk pengetahuan bagi orang tersebut.

Contoh: abstraksi seseorang akan ciri-ciri kucing dibanding dengan harimau akan menjadi pengetahuan orang itu tentang kucing dan harimau, yang selanjutnya dapat digunakan dalam membedakan kucing dan harimau, dan menganalisis hewan-hewan lain yang dijumpainya.
Contoh lain: Losari di waktu senja.



Proses Konstruktivisame

Menurut konstruktivisme, pengetahuan bukan hal yang statis dan deterministik, tetapi suatu proses menjadi tahu. Misalnya, pengetahuan mengenai kucing, tidak sekali jadi, tetapi merupakan suatu proses. Pada pertama kali melihat kucing kita memperoleh pengetahuan dengan melihat dan menjamah. Pada kesempatan lain, kita bertemu dengan kucing lain. Interaksi dengan macam-macam kucing akan menjadikan pengetahuan kita tentang kucing menjadi lebih lengkap dan rinci. Hal ini terjadi secara terus menerus.

Konstruksi dan Pengetahuan

Semua pengetahuan yang diperoleh adalah hasil rekonstruksi kita sendiri; kecil kemungkinan adanya transfer pengetahuan dari seseorang kepasa orang lain. Pengetahuan bukan merupakan barang yang dapat ditransfer dari orang yang mempunyai pengetahuan kepada orang yang belum mempunyai pengetahuan. Bila seorang dosen bermaksud mentransfer suatu konsep, ide, dan pengertian kepada mahasiswa, maka pemindahan itu harus diinterpretasikan, ditransformasikan dan dikonstruksikan oleh mahasiswa itu sendiri lewat pengalamannya. Banyaknya mahasiswa yang salah menangkap (misconception) apa yang diajarkandosen itu menunjukkan bahwa pengetahuan tidak dapat begitu saja dipindahkan, melainkan harus dikonstruksikan, atau diinterpretasikan, dan ditransformasikan sendiri oleh mahasiswa.
Agar mahasiswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan, diperlukan :
-          Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman
-          Kemampuan membandingkan, dan mengambil keputusan (justifikasi) mengenai persamaan atau perbedaan sesuatu hal.
-          Lebih menyukai pengalaman yang satu daripada yang lain (selective conscience).

Aspek Berpikir

Ada 2 aspek berpikir dalam proses pembentukanpengetahuan menurut Piaget.:
  1. Aspek berpikir figuratif, merupakan imajinasi keadaan sesaat dan statis, yang mencakup persepsi, imajinasi, dan gambaran mental seseorang terhadap suatu objek atau fenomena.
  2. Aspek berpikir operatif, lebih berkaitan dengan transformasi dari tahap yang satu ke tahap yang lain, yang menyangkut operasi intelektual atau sistem transformasi. Setiap tahap keadaan dapat dimengerti sebagai akibat dari transformasit tertentu, atau sebagai titik tolak bagi transformasi lain.

Gagasan Konstruktivisme mengenai pengetahuan adalah sebagai berikut :

  1. Pengetahuan bukanlah merupakan gambaran dunia kenyataan belaka, tetapi selalu merupakan konstruksi kenyataan melalui kegiatan mahasiswa ( Mind as inner individual representation)
  2. Mahasiswa mengkonstruksi sendiri skema kognitif, kategori, konsep, dan struktur dalam membangun pengetahuan, sehingga setiap individu akan memiliki, skema kognitif, kategori, kosep, dan struktur yang berbeda. Dalam hal ini proses abstraksi dan refleksi seseorang akan sangat berpengaruh dalam konstruksi pengetahuan (Reflection / Abstraction as primary)
  3. Pengetahuan dibentuk dalam struktur konsep masing-masing individu mahasiswa. Struktur konsep dapat membentuk pengetahuan, apabila konsep yang baru diterima itu dapat dikaitkan atau dihubungkan (proposisi) dengan pengalaman yang telah dimiliki mahasiswa. Dengan demikian maka penegtahuan adalah apa yang ada dalam pikiran setiap mahasiswa (Knowledge as residing in the mind).
  4. Dalam proses pembentukan pengetahuan, kebermaknaannya itu merupakan interpretasi individual mahasiswa terhadap pengalaman yang telah dialaminya (Meaning as intenally constructed). Perampatan (abstraksi) makna merupakan proses negosiasi di dalam individu mahasiswa dengan pengalamannya melalui interaksi dalam proses belajar mengajar (menjadi tahu) (Learning and teaching as negotiated construction of meaning).

Konstruktivisme dan Kenyataan

Konstruktivisme menyatakan bahwa seseorang tidak pernah dapat mengerti kenyataan yang sesungguhnya. Yang dimengerti adalah struktur konstruksi seseorang akan suatu objek. Konstruktivisme tidak bertujuan untuk mengerti kenyataan, tetapi lebih menggambarkan proses kita menjadi tahu akan sesuatu.
Bagi kaum konstruktivis, kebenaran terletak pad viabilitas (viability), yaitu kemmapuan operasi suatu konsep atau pengethuan dalam praktek.
Beberapa hal yang dapat membatasi proses konstruksi pengetahuan manusia :

(Pengaruh terhadap konstruksi pengetahuan)

Ø  Hasil konstruksi  yang telah dimiliki seseorang (constructed knowledge).
Ø  Domain pengalaman seseorang (domain of experience)
Ø  Jaringan struktur kognitif seseorang (existing cognitive structure)

Asal-Usul Konstruktivisme (Sejarah)



  Hubungan antara Konstruktivisme,
  Aliran Filsafat lain dan Teori Belajar


Konstruktivisme dan Empirisme

Pertanyaan paling besar dalam konstruktivisme : Struktur pengetahuan itu terletak dalam realitas mana ?  Apakah yang disebut kebenaran pengetahuan ?

Kenyataan terdiri atas dua dimensi : dimensi eksternal yang bersifat objetif, dan dimensi internal yang bersifat subjektif. Kaum rasionalis : pengetahuan merujuk pada obyek-obyek, dan kebenaran merupakan akibat dari deduksi logis. (Cogito ergo sum = Saya berpikir maka saya ada). Kaum empiris : pengetahuan merujuk pada obyek-obyek berdasarkan penalaran induktif dengan bukti-bukti yang diperoleh dari pengalaman. Menurut kaum empiris, semua kenyataan itu diketahui dan dipahami melalui indra, dan kriteria kebenarannya adalah kesesuaiannya dengan  pengalaman. Dalam hal ini kaum rasionalis lebih menekankan pada : rasio, logika, dan pengetahuan deduktif, sedangkan kaum empiris lebih menekankan pada pengalaman dan pengetahuan induktif. Konstruktivisme dikatakan merupakan sintesis pandangan rasionalis dan empiris. Konstruktivisme menunjukkan interaksi antara subyek dan objek, antara realitas eksternal dan juga internal.

Konstruktivisme, Empirisme, dan Relativisme

Konstruktivisme sering terkontaminasi sehingga mengarah ke empirisme dan relativisme, terlebih dalam pendidikan sains. Kaum konstruktivis dalam pendidikan sains menekankan pada peranan indra, pengalaman, dan percobaan dalam pengembangan pengetahuan, sehingga cenderung ke empirisme.

Konstruktivisme, Empirisme, Nativisme, dan Pragmatisme

Kalau empirisme menyatakan bahwa semua pengetahuan diturunkan dari pengalaman indrawi, nativisme menyatakan bahwa sumber pengetahuan adalah dari dalam. Konstruktivisme memuat segi empirisme dan dan nativisme : pengetahuan itu berasal dari sumber luar tetapi dikonstruksikan dalam diri seseorang. Kebenaran pengetahuan dalam konstruktivisme diganti dengan viability (berjalannya suatu pengetahuan). Hal ini berbeda dengan pragmatisme yang berslogan : kebenaran adalah hanya apa yang jalan. Konstruktivisme tidak mengklaim suatu kebenaran.

Konstruktivime vs Idealisme

Kaum idealis menyatakan bahwa pikiran dan konstruksinya adalah satu-satunya realitas. Konstruktivisme menyatakan bahwa kenyataan adalah apa yang dikonstruksikan dalam pikiran manusia . Bnetukan selalu berjalan, namun tidak selalu merupakan representasi dari dunia nyata. 

Konstruktivisme vs Objektivisme.

Bagi para Objektivis : realitas itu ada, terlepas dari pengamat, dan dapat ditemukan melalui langkah-langkah sistematis menuju kenyataan dunia ini. Konstruktivisme : pengetahuan adalah konstruksi pikiran manusia. Pengetahuan adalah suatu kerangka untuk mengerti bagaimana seseorang mengorganisasikan pengealaman, dan apa yang mereka percayai sebagai realitas.

Konstruktivisme dan Pembelajaran

1.      Pengetahuan dibangun oleh mahasiswa sendiri, baik secara personal maupun sosial.
2.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari dosen ke mahasiswa, kecuali melalui keaktifan mahasiswa sendiri untuk menalar
3.      Mahasiswa aktif mengkonstruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep menuju ke yang lebih rinci, lengkap, serta sesuai dengan konsep ilmiah
4.      Dosen sekedar membantu  menyediakan sarana dan situasi agar proses konstruksi mhasiswa dapat terlaksana.


Konstruktivisme dan Teori Belajar

  1. Konstruktivisme menjadi landasan beberapa Teori Belajar, misalnya Teori Perubahan Konsep, Teori Belajar Bermakna (Ausubel), Teori Skema.
  2. Konstruktivisme vs Behaviorisme dan Maturasionisme

Konstruktivisme dan Miskonsepsi

Konstruktivisme dan Balajar Bermakna

Konstruktivisme dan Teori Skemma

Konstruktivisme, Behaviorisme, dan Maturasionisme


Pengaruh Konstruktivisme Terhadap Proses Belajar


Menurut Konstruktivisme, belajar merupakan proses aktif mahasiswa mengkonstruksi arti, wacana, dialog, pengalaman fsik, dll. Belajar juga merupakan proses mengasimilasi dan menghubungkan pengalaman atau informasi yang dipelajari dengan pengertian yang sudah dimiliki mahasiswa sehingga pengetahuannya berkembang.
Proses tersebut bercirikan :
  1. Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan oleh mahasiswa dari apa yang dilihat, dengar, rasakan, dan alami. Konstruksi arti itu dipengaruhi oleh pengertian yang telah dimiliki.
  2. Konstruksi arti merupakan proses yang terus menerus. Setiap kali berhadapan dengan fenomena atau persoalan yang baru, mahasiswa akan selalu mengadakan rekonstruksi.
  3. Belajar bukanlah kegiatan mengumpulkan fakta, melainkan suatu proses pengembangan pemikiran dengan membentuk suatu pengertian yang baru. Belajar bukanlah suatu hasil perkembangan, melainkan perkembangan itu sendiri, yang menuntut penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.
  4. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skema seseorang dalam kesenjangan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi ketidakseimbangan (disequilibrium) adalah situasi yang baik untuk memacu belajar.
  5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman mahasiswa dengan dunia fisik dan lingkungannya.
  6. Hasil belajar seseorang tergantung pada apa yang telah diketahui mahasiswa, yaitu konsep-konsep, tujuan, dan motivasi yang mempengaruhi interaksi dengan bahan yang dipelajari.
Pengaruh Konstruktivisme Terhadap Mahasiswa


Kegiatan belajar adalah kegiatan aktif mahasiswa untuk menemukan sesuatu dan membangun sendiri pengetahuannya, bukan proses mekanik untuk mengumpulkan fakta. Mahasiswa bertanggungjawab atas hasil belajarnya. Ia membuat penalaran atas apa yang telah dipelajarinya dengan cara mencari makna, membandingkannya dengan apa yang telah diketahuinya, serta menyelesaikan ketidaksamaan antara yang telah diketahui dengan apa yang diperlukan dalam pengalaman baru. Belajar merupakanpengembangan pemikiran dengan membuat kerangka  pengertian yang berbeda. Belajar yang bermakna terjadi melalui refleksi, pemecahan konflik, dialog, penelitian, pengujian hipotesis, pengambilan keputusan, dll., dan dalam prosesnya tingkat pemikiran selalu diperbaharui sehingga menjadi semakin lengkap.
Setiap mahasiswa mempunyai caranya sendiri untuk mengkonstruksikan pengetahuannya, yang terkadang sangat berbeda dengan teman-temannya. Jadi sangat penting bagi dosen untuk menciptakan berbagai variasi situasi dan metode belajar, karena dengan satu model saja tidak akan membantu mahasiswa yang cara belajarnya berbeda.

Mahasiswa Belajar dalam Kelompok 

Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi mahasiswa bila ia terlibat secara sosial dalam dialog, dan aktif dalam percobaan dan pengalaman. Pembentukan makna dapat diperoleh dari dialog antar pribadi dalam suatu kelompok. Dalam kelompok belajar, mahasiswa dapat mengungkapkan perspektifnya dalam melihat persoalan dan hal lain yang akan dilakukan dengan persoalan itu. Melalui kesempatan mengemukakan gagasan, mendengarkan pendapat orang lain, serta bersama-sama membangun pengertian akan menjadi sangat penting dalam belajar, karena memiliki unsur yang berguna untuk menantang pemikiran dan meningkatkan kepercayaan seseorang.

Pengaruh Konstruktivisme terhadap Proses Pembelajaran


Bagi konstruktivisme, pembelajaran bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) dari dosen ke mahasiswa, melainkan kegiatan yang memungkinkan mahasiswa membangun sendiri pengetahuannya (belajar sendiri). 
Pembelajaran berarti partisipasi dosen bersama mahasiswa dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Pembelajaran adalah proses membantu seseorang berpikir secara benar, dengan cara membiarkannya berpikir sendiri, Berpikir yang baik lebih penting daripada mempunyai jawaban yang benar atas suatu persoalan. Seorang yang mempunyai cara berpikir yang baik dapat menggunakan cara berpikirnya ini dalam mengahadapi suatu fenomena baru, dan dapat menemukan pemecahan dalam menghadapi persoalan lain. Kemampuan ini tidak dipunyai mahasiswa yang hanya dapat menemukan jawaban yang benar, sehingga tidak dapat memecahkan masalah  yang baru.

Dosen sebagai Mediator dan Fasiliator

Menurut prinsip konstruktivisme, seorang dosen berperan sebagai mediator dan fasilitator, dapat menerima dan menghormati upaya-upaya mahasiswa untuk membentuk suatu pengertian baru, sehingga dapat menciptakan berbagai kemungkinan untuk siswa berkreasi :
  1. Membebaskan mahasiswa dari beban ikatan beban kurikulum dan membolehkan mahasiswa untuk berfokus pada ide-ide yang menyeluruh (big concepts)
  2. Memberikan kewenangan dan kebebasan kepada mahasiswa untuk mengikuti minatnya, mecari keterkaitan, mereformulasikan ide, dan mencapai kesimpulan yang unik.
  3. Berbagi informasi dengan mahasiswa tentang kompleksitas kehidupan di mana terdapat berbagai perspektif, dan kebenaran merupakan interpretasi orang per orang.
  4. Mengakui bahwa belajar dan proses penilaian terhadap belajar merupakan hal yang tidak mudah untuk dikelola, karena banyak hal yang tidak kasat mata, tetapi lebihkepada rasionalitas individu..

Pengaruh Konstruktivisme terhadap Strategi Pembelajaran


Selain penguasaan yang luas dan mendalam, seorang dosen dituntut untuk menguasai beragam strategi pembelajaran sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhandan situasi mahasiswa. Hal ini disebabkan tidak ada satu strategi pembelajaran yang cocok untuk semua situasi, waktu, dan tempat. Strategi yang disusun dosen hanyalah suatu alternatif, bukan menu yang sudah jadi.
Hal yang perlu diperhatikan dalam konstruktivisme ialah mengevaluasi hasil belajar mahasiswa. Dalam mengevaluasi, dosen sebenarnya menunjukkan kepada mahasiswa bahwa pikiran/ pendapat mereka tidak sesuai untuk persoalan yang dihadapi berdasarkan prinsip atau teori tertentu. Kebenaran bukanlah hal yang dicari, namun berhasilnya suatu proses (viable) adalah hal yang dinilai.

 Dalam mengevaluasi perlu dilihat tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, misalnya mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya, atau sekedar dapat menangani prosedur standar dan memberikan sumber jawaban standar yang terbatas. Proses evaluasi berbeda berdasarkan tujuan belajarnya, namun dalam konstruktivisme berfokus pada pendekatan mahasiswa terhadap persoalan yang dihadapi, bukan jawaban akhir yang diberikannya.

Proses evaluasi dalam pembelajaran konstruktivisme  tidak tergantung pada bentuk asesmen yang menggunakan paper and pencil test atau bentuk tes objektif. Bentuk asesmen yang digunakan disebut altenative assessment, seperti portfolio, observasi proses, dinamika kelompok, studi kasus, simulasi dan permainan, performance appraisal, dll.

Pembelajaran Konstruktivisme


Strategi Pembelajaran Konstruktivisme

Student-centered learning

Student-centered Learning Strategies :
-          belajar aktif
-          belajar mandiri
-          belajar kooperatif dan kolaboratif
-          generative learning
-          model pembelajaran kognitif :
-      problem based learning
-      discovery learning
-      cognitive strategies
BELAJAR AKTIF

Peran dosen dan peran mahasiswa
Mengapa belajar aktif
Bagaimana cara belajar aktif

BELAJAR MANDIRI

Definisi
Belajar Mandiri dan Pengajaran Individual
Kekuatan dan Kelemahan
Aplikasi Belajar Mandiri
-          Materi
-          Strategi

BELAJAR KOOPERATIF DAN KOLABORATIF

Perbedaan Belajar Kooperatif dan Kolaboratif

Aplikasi Belajar Kooperatif Kolaboratif
Discovery learning

GENERATIVE LEARNING

Proses Motivasi
Proses Belajar
Proses Penciptaan Pengetahuan
Proses Generasi

MODEL PEMBELAJARAN KOGNITIF :

PROBLEM BASED LEARNING
Hakekat
Asumsi Utama
Perbedaan dengan Pembelajaran Tradisional
Struktur Problem-Based Learning
Proses Pembelajaran menggunakan Problem-Based Learning

MODEL PEMBELAJARAN KOGNITIF :

STRATEGI KOGNITIF

  1. Definisi
  2. Latar belakang
  3. Metacognition dan Strategi Kognitif
  4. Reflection in Action
  5. Experiental Learning Cycle
  6. Strategi Kognitif vs Keterampilan Intelektual
  7. Pengembangan Strategi Kognitif
  8. Jenis-Jenis Strategi Kognitif
  9. Concept Mapping
  10. Prosedur Pemetaan Kognitif
  11. Kecepatan Belajar yang Efektif
  12. Umpan Balik

TEKNIK PEMBELAJARAN SETS
( sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat )
Pengertian SETS
Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan saling temas yang merupakan sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. Asyari (dalam Tristanti, 2011:12) mengartikan pendekatan SETS sebagai suatu pendekatan dalam pembelajaran sains yang mengaitkan dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat sekitar. Pendekatan SETS ditujukan untuk membantu peserta didik mengetahui sains, perkembangan dan aplikasi konsep sains dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini membahas tentang hal-hal yang bersifat nyata, yang dapat dipahami, dapat dibahas, dan dapat dilihat.
Menurut podjiaji (dalam Tistanti) pembelajaran Sains Lingkungan Teknologi dan Masyarakat pada dasarnya memberikan pemahaman tentang kaitan antara sains teknologi dan masyarakat sekitar serta merupakan wahana untuk melatih kepekaan siswa terhadap lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi. Berdasarkan hal tersebut siswa diharapkan dapat menerapkan pembelajaran sains dengan memanfaatkan lingkungan sekitar untuk membuat teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat.

2.2 Hakekat Pendekatan Sains, Teknologi lingkungan dan Masyarakat
Pendekatan Sains, Teknologi lingkungan dan masyarakat (SETS) adalah pengindonesiaan dari Science-Technology-Society (STS) yang pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an, dan selanjutnya berkembang di Inggris dan Australia. National Science Teacher Association atau NSTA, mendefinisikan pendekatan ini sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia. Dengan volume informasi dalam masyarakat yang terus meningkat dan kebutuhan bagi penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan hubungannya dengan kehidupan masyarakat dapat menjadi lebih mendalam, maka pendekatan SETS dapat sangat membantu bagi anak. Oleh karena pendekatan ini mencakup interdisipliner konten dan benar- benar melibatkan anak sehingga dapat meningkatkan kemampuan anak. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan antara kemajuan iptek, membanjirnya informasi ilmiah dalam dunia pendidikan, dan nilai–nilai iptek itu sendiri dalam kehidupan masyarakat sehari -hari.
Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (SETS) dalam pandangan ilmu-ilmu sosial dan humaniora, pada dasarnya memberikan pemahaman tentang kaitan antara sains teknologi dan masyarakat, melatih kepekaan penilaian peserta didik terhadap dampak lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi (Poedjiadi, 2005). Menurut Raja (2009), keputusan yang dibuat oleh masyarakat biasanya memerlukan penggunaan teknologi untuk melaksanakannya. Bahkan, masyarakat dan ilmu pengetahuan menggunakan teknologi sebagai sarana untuk menyimpan informasi. Peranan penting yang dimiliki oleh teknologi dapat berfungsi sebagai sarana tindakan dan penyidikan dalam pendekatan SETS. Data juga menyiratkan sifat ilmu pengetahuan sebagai sebuah bidang di semua masyarakat. 
Sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sedangkan masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah, kebutuhan, dan norma -norma sosial tertentu. Sains, teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi (Widyatiningtyas, 2009). Menurut Widyatiningtyas (2009), pendekatan SETS dapat menghubungkan kehidupan dunia nyata anak sebagai anggota masyarakat dengan kelas sebagai ruang belajar sains. Proses pendekatan ini dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak dalam mengidentifikasi potensi masalah, mengumpulkan data yang berkaitan dengan masalah, mempertimbangkan solusi alternatif, dan mempertimbangkan konsekuensi berdasarkan keputusan tertentu.
Pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman, penyadaran, dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan nasional secara umum dan tujuan pendidikan sains secara khusus, yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah
(Amien, 1992 dalam Widyatiningtyas, 2009). 
Untuk penyusunan materi pendidikan sains, hendaknya merupakan akumulasi dari konten, proses, dan konteks. Konten, menyangkut hal -hal yang berkaitan dengan fakta, definisi, konsep, prinsip, teori, model, dan terminologi. Proses, berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan konten. Konteks, berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan zaman. Benneth et. al. (2005) melaporkan, bahwa pendekatan SETS merupakan pendekatan berbasis konteks yang memiliki peranan yang sangat penting dalam memotivasi anak dan mengembangkan keaksaraan ilmiah mereka berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap anak laki-laki dan perempuan yang berkemampuan rendah.
Dengan demikian, tujuan pendekatan SETS adalah untuk membentuk individu yang memiliki literasi sains dan teknologi serta memiliki kepedulian terhadap masalah masyarakat dan lingkungannya (Pudjiadi, 2005).
Menurut Rusmansyah (2003) dalam Aisyah (2007), pendekatan SETS dilandasi oleh tiga hal penting yaitu:
1. Adanya keterkaitan yang erat antara sains, teknologi dan masyarakat.
2. Proses belajar-mengajar menganut pandangan konstruktivisme, yang pada pokoknya menggambarkan bahwa anak membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungan.
3. Dalam pengajarannya terkandung lima ranah, yang terdiri atas ranah  pengetahuan, ranah sikap, ranah proses sains, ranah kreativitas, dan ranah hubungan dan aplikasi.

Program pembelajaran dengan pendekatan SETS pada umumnya mempunyai karakteristik, sebagai berikut:
1. Identifikasi masalah-masalah setempat.
2. Penggunaan sumber daya setempat yang digunakan dalam memecahkan  masalah.
3. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi untuk memecahkan masalah.
4. Perpanjangan pembelajaran di luar kelas dan sekolah.
5. Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa.
6. Isi dari pembelajaran bukan hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasai siswa dalam kelas
7. Penekanan pada keterampilan proses di mana siswa dapat menggunakan dalam memecahkan masalah.
8. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi.
9. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara identifikasi bagaimana sains dan teknologi berdampak di masa depan.
10. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.
2.3 Konsep Pendidikan Sains lingkungan Teknologi dan Masyarakat
Inovasi pendidikan selalu dilakukan oleh ahli pendidikan agar pendidikan siswa lebih bermakna, ini tentunya selalu disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan tuntutan masyarakat. Pendekatan pembelajaran yang inovatif yang dikembangkan oleh ahli pendidikan sekarang salah satunya adalah diintegrasikannya pendidikan berwawasan lingkungan, misalnya Pendidikan bervisi STS (Science Technology Society) berarti pendidikan bervisi Sains Teknologi dan Masyarakat, pendidikan bervisi EE (Environmental Education) berarti pendidikan lingkungan hidup, pendidikan STL (Sciencetific and Technological Literacy ) artinya pendidikan berwawasan Sains dan merujuk Teknologi. Beberapa waktu berlalu belum menampakkan hasil optimal dari pengintegrasian visi-visi tersebut dalam pendidikan. Untuk itulah perlu dikembangkan pendidikan bervisi SETS sebagai satu kesatuan Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat yang tidak boleh dipisahkan. Ketergantungan terhadap produk alam untuk keperluan kehidupan sehari-hari masih cukup tinggi. Sehingga tingkat kekayaan alam yang relatif berkurang dibandingkan dengan jumlah manusia yang membutuhkan, semakin memberi dukungan terhadap aplikasi pendidikan bervisi SETS.
Hakekat SETS dalam pendidikan merefleksikan bagaimana harus melakukan dan apa saja yang bisa dijangkau oleh pendidikan SETS. Pendidikan SETS harus mampu membuat peserta didik yang mempelajarinya baik siswa maupun warga masyarakat benar-benar mengerti hubungan tiap-tiap elemen dalam SETS. Hubungan yang tidak terpisahkan antara sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat merupakan hubungan timbal balik dua arah yang dapat dikaji manfaat-manfaat maupun kerugian-kerugian yang dihasilkan. Pada akhirnya peserta didik mampu menjawab dan mengatasi setiap problem yang berkaitan dengan kekayaan bumi maupun isu-isu sosial serta isu-isu global, hingga pada akhirnya bermuara menyelamatkan bumi.
Keberhasilan Pendidikan SETS dengan kedalaman yang memadai sangat relevan untuk memecahkan problem yang melanda kehidupan sehari-hari. Misalnya masalah pencemaran, pengangguran, bencana alam, kerusuhan sosial dan lain-lainnya. Isu-isu tersebut dapat dibawa ke dalam kelas dan dikaji melalui pendidikan SETS untuk dicarikan pemecahannya, paling tidak pencegahannya. Pendidikan SETS pada hakekatnya akan membimbing peserta didik untuk berpikir global dan bertindak lokal maupun global dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi sehari -hari. Masalah-masalah yang berada di masyarakat dibawa ke dalam kelas untuk dicari pemecahannya menggunakan pendidikan SETS secara terpadu dalam hubungan timbal balik antar elemen-elemen sains, lingkungan, teknologi, masyarakat.
Peserta didik dilatih agar mampu berpikir secara global dalam memecahkan masalah lokal, nasional maupun internasional sesuai dengan kadar kemampuan berpikir dan bernalarnya. Peserta didik dibimbing untuk memiliki kepekaan terhadap masalah-masalah di masyarakat dan berperan aktif untuk turut mencari pemecahannya.  Pendidikan SETS ini dapat mengatasi kelemahan sistem pendidikan klasik dimana peserta didik diajak melaju untuk menyelesaikan materi pelajaran, tanpa diketahui dengan jelas implementasi peserta didik terhadap daya serap materi pelajaran (Apakah materi pelajaran dapat dikuasai keseluruhan atau sebagian, dan kompetensi dasar apa yang sudah dicapai). Sehingga Pendidikan SETS dapat mengantisipasi beberapa hal pokok dalam membekali peserta didik, diantaranya :
a. Menghindari ‘materi oriented’ dalam pendidikan tanpa tahu masalah – masalah di masyarakat secara lokal, nasional, maupun internasional.
b. Mempunyai bekal yang cukup bagi peserta didik untuk menyongsong era globalisasi (AFTA–2003, AFAS–2003, WTO–2010).
c. Peserta didik mampu menjawab dan mengatasi setiap masalah yang berkaitan dengan kelestarian bumi, isu-isu sosial, isu-isu global, misalnya masalah pencemaran, pengangguran, kerusuhan sosial, dampak hasil teknologi dan lain-lainnya hingga pada akhirnya bermuara menyelamatkan bumi.
d. Membekali peserta didik dengan kemampuan memecahkan masalah – masalah dengan penalaran sains, lingkungan, teknologi, sosial secara integral, baik di dalam maupun di luar kelas.
Pendidikan SETS mencakup topik maupun konsep yang berhubungan dengan sains, teknologi, lingkungan dan berbagai hal yang diperkirakan melanda masyarakat. Obyek-obyek pendidikan yang dipelajari pada akhirnya diharapkan dimengerti dengan baik korelasinya dengan keempat elemen utama SETS. Pendidikan SETS bukan pendidikan di angan-angan atau di atas kertas saja, melainkan pendidikan SETS benar-benar membahas sesuatu yang nyata / riil, bisa dipahami, dapat dilihat dan dibahas dan bisa dipecahkan jalan keluarnya. Kurang pada tempatnya jika pembahasan SETS hanya sebatas elemen per elemen yang terpisah satu sama lain. Apabila hal itu dilakukan sama artinya dengan memfokuskan pada salah satu unsur dari SETS. 
Keempat unsur pada Pendidikan SETS saling berinteraksi dalam membahas suatu konsep pendidikan baik sains maupun non sains. Untuk memenuhi kepentingan peserta didik perlu diciptakan suatu program yang sesuai dengan tingkat pendidikan peserta didik maupun warga masyarakat. Para guru diharapkan lebih berhati-hati dalam pengajarannya jika memasukkan konsep atau topik yang akan dibahas dengan teknik Pendidikan SETS. Topik tersebut harus aktual dan sesuai dengan subyek yang sedang dipelajari dan tentunya tidak bertentangan dengan kurikulum yang dibakukan. Satu hal yang paling penting, Pendidikan SETS harus dapat membawa setiap peserta didik berperan serta dalam kegiatan pembelajaran.
2.4 Tujuan Pendidikan Sains lingkungan Teknologi dan Masyarakat
Tujuan Pendidikan SETS adalah untuk membantu peserta didik mengetahui sains, perkembangan sains, teknologi -teknologi yang digunakannya, dan bagaimana perkembangan sains serta teknologi mempengaruhi lingkungan serta masyarakat. Pendidikan SETS berupaya memberikan pemahaman tentang peranan lingkungan terhadap sains, teknologi, masyarakat. Sebaliknya peranan masyarakat terhadap arah perkembangan sains, teknologi dan keadaan lingkungan. Termasuk juga peranan teknologi dalam penyesuaiannya dengan sains, manfaatnya terhadap masyarakat dan dampak -dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Tidak ketinggalan peranan sains untuk melahir kan konsepkonsep yang berdaya guna positif, keterlibatannya pada teknologi yang dipakai maupun pengaruhnya terhadap masyarakat dan lingkungan secara timbal balik. Jadi tujuan utama Pendidikan SETS ialah bagaimana membuat agar SETS dapat menolong manusia membuat surga dunia di muka bumi ini, bukan sebaliknya menciptakan neraka dunia dalam segala aspek kehidupan. SETS sesungguhnya harus mampu menolong setiap negara di dunia untuk mewujudkan kemakmuran bagi semua warga negaranya. 
Dalam memberikan pengantar Pendidikan SETS kepada peserta didik, setiap guru harus dapat menciptakan variasi pendekatan atau konsep pembelajaran yang disesuaikan tingkat kemampuan maupun obyektivitas dari pendidikan SETS itu sendiri. Perlu diingat bahwa tidak tertutup kemungkinan seorang siswa memiliki peluang lebih besar untuk mengalami sesuatu topik masalah secara lebih nyata dibanding dengan gurunya. Apabila hal itu terjadi, para guru hendaknya tidak merasa berkecil hati, justru merasa lebih tertantang dengan kondisi yang ada untuk belajar lebih keras dan mencoba mendahului kemampuan muridnya dengan tujuan positif. Jangan sampai terjadi karena muridnya diketahui lebih cepat dapat mengakses pengetahuan yang ada, seorang guru menjadi tidak suka atau antipati kepada muridnya. Segi baik lainnya adalah setiap murid secara perorangan dapat mengoptimalkan pengetahuan yang dimilikinya untuk bekerja sama dengan temannya dalam proses Pendidikan SETS. Hal ini mengandung arti murid yang bersangkutan telah belajar bagaimana bersosial masyarakat.

Berarti sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat saling terkait dalam hubungan dua arah antara sains dengan lingkungan, teknologi, masyarakat. Antara lingkungan dengan sains, teknologi, masyarakat. Antara teknologi dengan sains, lingkungan, masyarakat. Antara masyarakat dengan sains, lingkungan, teknologi. Hubungan kesalingterkaitan dua arah antara elemen-elemen SETS menunjukkan interaksi positif maupun negatif yang menjadi dampak yang tumbuh dari perkembangan tiap -tiap elemen SETS.
Pendidikan SETS harus dapat membuat peserta didik memahami hakekat dari ‘Sains, Lingkungan, Teknologi, Masyarakat’ sebagai satu kesatuan. Maksudnya peserta didik harus selalu memperhitungkan saling keterkaitan antara elemen-elemen dalam SETS. Pendidikan SETS tidak hanya memperhatikan sains, teknologi, masyarakat tetapi juga dampak positif / negatif yang diakibatkan oleh sains dan teknologi yang dipakai oleh masyarakat pada lingkungan dan masyarakat itu sendiri.
Unsur-unsur yang dimiliki dalam Pendidikan lingkungan (EE – Environmental Education) dan Pendidikan STS (Science Technology Society) tidak selengkap Pendidikan SETS. Fokus Pendidikan SETS meliputi belajar di (in), untuk (for), tentang (about) lingkungan, dengan mencoba menemukan dan mengungkap penyebab permasalahan serta kemungkinan apa yang menimbulkan dampak pada lingkungan di masa yang akan datang. Terutama sekali dampak-dampak yang timbul akibat sains dan teknologi yang digunakan dalam usaha memenuhi kebutuhan masyarakat. Peserta didik memahami setiap elemen dalam SETS semuanya menyatu, dan mengaplikasikan dalam proses berpikirnya dengan meninjau keterlibatan keempat elemen tersebut dari sisi positif maupun negatif. Pendidikan SETS bermaksud membawa peserta didik untuk mengkorelasikan antara sains, teknologi, lingkungan dan masyarakat. Contohnya, produk-produk teknologi yang mendukung sains. Dampak positif maupun negatif teknologi, sains terhadap masyarakat atau lingkungan. Keterlibatan masyarakat dalam pengembangan sains dan penciptaan teknologi serta perlakuannya terhadap lingkungan. kemampuan lingkungan dalam penyediaan kebutuhan masyarakat, penciptaan teknologi dan pengembangan sains. Hal-hal itulah yang dimaksudkan dalam Pendidikan SETS. Terhadap peserta didik, tentunya sebatas pada kemampuan kognitif, penalaran dan pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Sehingga dalam pendidikan SETS, peserta didik benar-benar learning to know–learning to do–learning to be– learning to live together.
Berdasarkan pemikiran Pendidikan SETS kita dapat membangun generasi muda yang melihat ke depan (futuristik) ke arah peningkatan kualitas hidup setiap anggota masyarakat.
Yang perlu diperhatikan dalam membelajarkan SETS untuk major sains adalah sebagai berikut.
1. Topik yang dipilih hendaknya memunculkan sains yang telah dikenal dalam kurikulum, dan dititikberatkan pada keterkaitan hubungan dengan teknologi, lingkungan maupun masyarakat.
2. Hendaknya diberikan materi pengajaran yang dapat menyentuh rasa kepedulian tentang keberadaan sains, teknologi, lingkungan, masyarakat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah.
3. Pemilihan materi pengajaran hendaklah yang dapat membawa peserta didik ke arah ‘melek’ sains dan teknologi beserta penerapannya dan berbagai dampaknya positif atau negatif terhadap lingkungan, masyarakat, serta pada teknologi itu sendiri sehingga dapat lebih menumbuhkan kepedulian peserta didik dan tanggung jawab mereka pada pemecahan masalah lingkungan dan masyarakat.
4. Pembuatan bahan evaluasi hendaknya menerapkan sains, teknologi, masyarakat, lingkungan yang relevan.
2.5 Tahap-tahap Pendekatan SETS 
Secara operasional National Science Teacher Association menyusun tahapan pembelajaran sains dengan pendekatan SETS sebagai berikut.
a. Tahap invitasi 
Pada tahap ini guru memberikan isu/ masalah aktual yang sedang berkembang di masyarakat sekitar yang dapat dipahami peserta didik dan dapat merangsang siswa untuk mengatasinya. Guru juga bisa menggali pendapat dari siswa, yang ada kaitannya dengan materi yang akan dibahas.
b. Tahap eksplorasi
Pada tahap ini, guru dan siswa mengidentifikasi daerah kritis penyelidikan. Data-data dan informasi dapat dikumpulkan melalui pertanyaan-pertanyaan atau wawancara, kemudian menganalisis informasi tersebut. Data dan informasi dapat pula diperoleh melalui telekomunikasi, perpustakaan dan sumber-sumber dokumen publik lainnya. Dari sumber-sumber informasi, siswa dapat mengembangkan penyelidikan berbasis ilmu pengetahuan untuk menyelidiki isu-isu yang berkaitan dengan masalah ini. Pemahaman tentang hujan asam, misalnya, dilakukan dalam laboratorium untuk menyelidiki sifat -sifat asam dan basa. Penyelidikan ini memberikan pemahaman dasar untuk pengembangan, pengujian hipotesis, dan mengusulkan tindakan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009).
Menurut Aisyah (2007), tahap kedua ini merupakan proses pembentukan konsep yang dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode. Misalnya pendekatan keterampilan proses, pendekatan sejarah, pendekatan kecakapan hidup, metode demonstrasi, eksperimen di labolatorium, diskusi kelompok, bermain peran dan lain-lain. Pada akhir tahap kedua, diharapkan melalui konstruksi dan rekonstruksi siswa menemukan konsep-konsep yang benar atau konsep-konsep para ilmuan. Selanjutnya berbekal pemahaman konsep yang benar siswa melanjutkan analisis isu atau masalah yang disebut aplikasi konsep dalam kehidupan.
c. Tahap solusi
Pada tahap ini, siswa mengatur dan mensintesis informasi yang mereka telah kembangkan sebelumnya dalam penyelidikan. Proses ini termasuk komunikasi lebih lanjut dengan para ahli di lapangan, pengembangan lebih lanjut, memperbaiki, dan menguji hipotesis mereka, dan kemudian mengembangkan penjelasan tentatif dan proposal untuk solusi dan tindakan. Hasil tersebut kemudian dilaporkan dan disajikan kepada rekan -rekan kelas untuk menggambarkan temuan, posisi yang diambil, dan tindakan yang diusulkan (Dass, 1999 dalam Raja, 2009). 
Menurut Aisyah (2007), apabila selama proses pembentukan konsep dalam tahap ini tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian pula setelah akhir analisis isu dan penyelesaian masalah, guru tetap harus melakukan pemantapan konsep melalui penekanan pada konsep-konsep kunci yang penting diketahui dalam bahan kajian tertentu. Hal ini dilakukan karena konsep–konsep kunci yang ditekankan pada akhir pembelajaran akan memiliki retensi lebih lama dibandingkan dengan kalau tidak dimantapkan atau ditekankan oleh guru pada akhir pembelajaran.

d. Tahap aplikasi
Siswa diberi kesempatan untuk menggunakan konsep yang telah diperoleh. Dalam hal ini siswa mengadakan aksi nyata dalam mengatasi masalah yang muncul dalam tahap invitasi.
e. Tahap pemantapan konsep
Guru memberikan umpan balik/ penguatan terhadap konsep yang diperoleh siswa.

Menurut Varella (1992) dalam Widyatiningtyas (2009), evaluasi dalam SETS meliputi ruang lingkup aspek:
1. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari -hari.
2. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalah-masalah teknologi sehari-hari.
3. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat–alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat.
4. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari -hari.
5. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan, nutrisi, atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. 

Menurut Yagger (1994), penilaian terhadap proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan SETS dapat dilakukan dengan menggunakan lima domain, yaitu:
1. Konsep, yang meliputi penguasaan konsep dasar, fakta dan generalisasi.
2. Proses, penggunaan proses ilmiah dalam menemukan konsep atau penyelidikan.
3. Aplikasi, penggunaan konsep dan proses dalam situasi yang baru atau dalam kehidupan.
4. Kreativitas, pengembangan kuantitas dan kualitas pertanyaan, penjelasan, dan tes untuk mevalidasi penjelasan secara personal.
5. Sikap, mengembangkan perasaan positif dalam sains, belajar sains, guru sains dan karir sains. 
2.6    Karakteristik SETS dalam pembelajaran Biologi
Menurut Binadja (2000 : 6), dalam suatu pembelajaran Biologi dengan pendekatan SETS, ada beberapa karakteristik yang perlu ditampilkan dalam pembelajaran, yaitu :
1. Tetap menyampaikan pelajaran sains Biologi yang telah ditentukan
2. Siswa dibawa pada situasi untuk memanfaatkan konsep sains ke dalam bentuk teknologi untuk kepentingan masyarakat sebagai pengguna dan pengembang teknologi
3. Siswa diminta untuk menjelaskan hubungan antar unsur sains Biologi dengan unsur-unsur lain dalam SETS
4. Siswa diajak untuk mencari alternatif penyelesaian masalah yang ditimbulkan oleh penerapan sains ke dalam bentuk teknologi tersebut ke dalam lingkungan dan masyarakat (mencari bentuk teknologi yang lebih baik)
5. Dalam konteks konstruktivisme, siswa diajak berbincang tentang SETS berkaitan dengan konsep sains yang dibelajarkan, dari berbagai macam arah dan dari berbagai macam titik awal tergantung pengetahuan dasar yang dimiliki siswa.
2.7  Kelebihan SETS
Menurut Ismail pendekatan SETS memiliki keunggulan sebagai berikut.
a. Menghindari materi oriented dalam pendidikan tanpa tahu masalah-masalah di masyarakat secara lokal, nasional, maupun internasional.
b. Mempunyai bekal yang cukup bagi peserta didik untuk menyongsong era globalisasi
c. Membekali peserta didik dengan kemampuan memecahkan masalah-masalah dengan penalaran sains, lingkungan, teknologi dan masyarakat secara integral baik di dalam ataupun di luar kelas.
d. Pengajaran sains lebih bermakna karena langsung berkaitan dengan permasalahan yang muncul di kehidupan keseharian siswa tentang peranan sains dalam kehidupan nyata.
e. Meningkatkan kemampuan siswa untuk mengaplikasikan konsep, keterampilan, proses, kreativitas, dan sikap meghargai produk teknologi serta bertanggung jawab atas masalah yang muncul di lingkungan.
f. Kegiatan kelompok dapat memupuk kerjasama antar siswa dan sikap toleransi dan saling menghargai pendapat teman
g. Mengaplikasikan suatu gagasan atau penciptaan suatu karya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat maupun bagi perkembangan sains dan teknologi. Dengan demikian pendekatan SETS dapat membantu siswa dalam mengetahui sains, teknologi yang digunakannya serta perkembangan sains dan teknologi dapat berpengaruh terhadap lingkungan dan masyarakat.

TEKNIK PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH
elihat perkembangan zaman yang semakin pesat dengan didukung oleh kemajuan teknologi mau tidak mau menstimulus pendidikan untuk dapat beradaptasi sesuai dengan tuntutan zaman. Selain itu, menumbuhkan kesempatan belajar bagi peserta didik (grown learning). Model pembelajaran merupakan salah satu metodologi yang diciptakan dunia pendidikan dalam rangka menuju ke tercapainya suatu perubahan. Pada pelaksanaan model pembelajaran tentunya melibatkan pembelajar (guru) dan peserta didik (siswa). Seorang guru adalah seorang yang profesionalis dalam menjalankan fungsi-fungsinya dengan menggunakan metodologi untuk membelajarkan peserta didik dengan cara yang tidak konstan, artinya seorang guru itu harus berinovasi dan menciptakan perubahan baik pada dirinya serta pada peserta didiknya.
Berbagai macam upaya telah dilakukan dalam dunia pendidikan, seperti contoh kecilnya tadi adalah terciptanya berbagai model pembelajaran yang memang dirancang dengan melihat kondisi perkembangan peserta didik dari waktu ke waktu. Salah satu contoh model pembelajaran yang ditemukan adalah Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning).
Menurut Tan dalam Rusman (2010), Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) merupakan inovasi dalam pembelajaran karena pada model ini kemampuan berpikir siswa betul-betul dioptimalisasikan melalui proses kerja kelompok atau tim yang sistematis, sehingga siswa dapat memberdayakan, mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan.
Akan tetapi, pada kenyataannya tidak semua pendidik (guru) memahami konsep dari Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) ini. Mungkin disebabkan oleh kurangnya keinginan dan motivasi untuk meningkatkan kualitas keilmuan maupun karena kurangnya dukungan sistem untuk meningkatkan kualitas keilmuan tenaga pendidik.
Berdasarkan hal tersebut, maka perlu kiranya ada sebuah bahan kajian yang mendalam tentang apa dan bagaimana Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) ini untuk selanjutnya diterapkan dalam sebuah proses pembelajaran, sehingga dapat memberi masukan, khususnya kepada para guru tentang model ini. Dimana, menurut Tan dalam Rusman (2010), merupakan model pembelajaran yang relevan dengan tuntutan  abad ke-21 dan umumnya kepada para ahli dan prkatisi pendidikan yang memusatkan perhatiannya pada pengembangan dan inovasi sistem pembelajaran. Berikut uraian secara rinci dari Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning).
A.      Pengertian Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Pendidikan pada abad ke-21 berhubungan dengan permasalahan baru yang ada di dunia nyata. Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) berkaitan dengan penggunaan inteligensi dari dalam diri individu yang berada dalam sebuah kelompok orang, atau lingkungan untuk memecahkan masalah yang bermakna, relevan, dan kontekstual.
Hasil pendidikan yang diharapkan meliputi pola kompetensi dan inteligensi yang dibutuhkan untuk berkiprah pada abad ke-21. Pendidikan bukan hanya menyiapkan masa depan, tetapi juga bagaimana menciptakan masa depan. Nah, apakah sebenarnya Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) itu ?. Berikut akan dibahas defenisi dari medel ini berdasarkan pendapat dari beberapa ahli.
Boud dan Feletti dalam Rusman (2010) mengemukakan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah inovasi yang paling signifikan dalam pendidikan. Margetson dalam Rusman (2010) mengatakan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) membantu untuk meningkatkan perkembangan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif, serta memfasilitasi keberhasilan memecahkan masalah, komunikasi, kerja kelompok, dan keterampilan interpersonal dengan lebih baik dibanding model lain.
“Problem Based Learning (PBL) is a method of learning in which learners first encounter a problem followed by a systematic, learned centered inquiry and reflection process”. Artinya Problem Based Learning (PBL) adalah suatu metode pembelajaran dimana pembelajar bertemu dengan suatu masalah yang tersusun sistematis; penemuan terpusat pada pembelajar dan poses refleksi (Teacher and Edcucational Development ,2002).
Menurut Jodion Siburian, dkk dalam Utami (2011), Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran artinya dihadapkan pada suatu masalah, yang kemudian dengan melalui pemecahan masalah, melalui masalah tersebut siswa belajar keterampil-keterampilan yang lebih mendasar.
Selain itu,Muslimin dalam Utami (2011) mengatakan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning) adalah suatu model untuk membelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan masalah, belajar peranan orang dewasa yang otentik serta menjadi pelajar mandiri. Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata dan menjadi pembelajaran yang mandiri.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli, maka dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Berbasis Masalah(Problem Based Learning) adalah model pembelajaran yang diawali dengan pemberian masalah kepada peserta didik dimana masalah tersebut dialami atau merupakan pengalaman sehari-hari peserta didik. Selanjutnya peserta didik menyeleseikan masalah tersebut untuk menemukan pengetahuan baru. Secara garis besar PBL terdiri dari kegiatan menyajikan kepada peserta didik suatu situasi masalah yang autentik dan bermakna serta memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri.
B.       Teori Belajar Yang Melandasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Ada beberapa teori belajar yang melandasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah(Problem Based Learning) sebagai berikut : (Rusman, 2010)

1.        Teori Belajar Konstruktivisme
Dari segi pedagogis, Model Pembelajaran Berbasis Masalah(Problem Based Learning) didasarkan pada teori konstruktivisme dengan ciri :
a.       Pemahaman diperoleh dari interaksi dengan skenario permasalahan dan lingkungan belajar.
b.      Pergulatan dengan masalah dan proses inquiry masalah menciptakan disonansi kognitif yang menstimulasi belajar.
c.       Pengetahuan terjadi melalui proses kolaborasi negoisasi sosial dan evaluasi terhadap keberadaan sebuah sudut pandang.
2.        Teori Belajar dari Piaget
Piaget menegaskan bahwa anak memiliki rasa ingin tahu bawaan dan secara terus menerus berusaha ingin memahami dunia di sekitarnya. Rasa ingin tahu ini, menurut Piaget dapat memotivasi mereka untuk secara aktif membangun tampilan dalam otak mereka mengenai lingkungan yang mereka hayati. Pada saat mereka tumbuh semakin dewasa dan memperoleh lebih banyak kemampuan bahasa dan memori, tampilan mental mereka tentang dunia menjadi lebih luas dan lebih abstrak. Sementara itu, pada semua tahap perkembangan, anak perlu memahami lingkungan mereka dan memotivasinya untuk menyelidiki dan membangun teori-teori yang menjelaskan lingkungan itu.
3.        Teori Belajar Bermakna dari David Ausubel
Suparno dalam Rusman (2010) mengatakan bahwa Ausubel membedakan antara belajar bermakna (meaningfull learning) dengan belajar menghafal (rote learning). Belajar bermakna merupakan proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang belajar. Belajar menghafal, diperlukan bila seseorang memperoleh informasi baru dalam pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan yang telah diketahuinya. Kaitannya dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah(Problem Based Learning) dalam hal mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa.

4.        Teori Belajar Vigotsky
Perkembangan intelektual terjadi pada saat individu berhadapan dengan pengalaman baru dan menantang serta ketika mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dimunculkan. Dalam upaya mendapatkan pemahaman, individu berusaha mengaitkan pengetahuan baru dengan pengetahuan awal yang telah dimilikinya kemudian kemudian membangun pengertian baru. Ibrahim dan Nur dalam Rusman (2010) Vigotsky meyakini bahwa interaksi sosial dengan teman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Kaitannya dengan Model Pembelajaran Berbasis Masalah(Problem Based Learning) dalam hal mengaitkan informasi baru dengan struktur kognitif yang telah dimiliki oleh siswa melalui kegiatan belajar dalam interkasi sosial dengan teman lain.
5.        Teori Belajar dari Albert Bandura
Model Pembelajaran Berbasis Masalah juga berlandaskan pada social leraning theory Albert Bandura, yang fokus pada pembelajaran dalam konteks sosial (social context). Teori ini menyatakan bahwa seorang belajar dari orang lain, termasuk konsep dari belajar observasional, imination dan modeling. Prinsip umum dari social learning theory selengkapnya dinyatakan oleh Armrod (1999) sebagai berikut:
General principles of social learning theory follows:
  1. People  can learn by observing the behavior is of others and the autcomes of those behaviors.
  2. Learning can occur without a change in behavior. Behaciorists say that learning has to be represented by a permanent change in behavior, in contrast social learning theorists say that because people can learn thourg observation alone, their learning may not necessarily be shown in their performance. Learning may or may not result in a behavior change.
  3. Cognition plays a role in learning. Over the last 30 years social learning theory has become increasingly cognitive in its interpretation of human learning. Awareness and expectation of future reinforcements or punishments can have a major effect on the behaviors that people exhibit.
  4. Social learning theory can be considered a bridge or a transition between behaviorist learning theories and cognitive learning theories.
6.        Teori Belajar Jerome S. Bruner
Metode penemuan merupakan metode dimana siswa menemukan kembali, bukan menemukan yang sama sekali benar-benar baru. Belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dengan sendirinya memberikan hasil yang lebih baik, berusaha sendiri mencari pemecahan masalah serta didukung oleh pengetahuan yang menyertainya, serta menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna (Dahar dalam Rusman, 2010).
Bruner juga menggunakan konsep scaffolding dan interaksi sosial di kelas maupun di luar kelas. Scaffolding adalah suatu proses untuk membantu siswa menuntaskan masalah tertentu melampaui kapasitas perkembangannya melalui bantuan guru, teman atau orang lain yang memiliki kemampuan lebih.
Kaitan intelektual antara pembelajaran penemuan dan belajar berbasis masalah sangat jelas. Pada kedua model ini, guru menekankan keterlibatan siswa secara aktif, orientasi induktif lebih ditekankan dari pada deduktif, dan siswa menentukan atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Pada belajar berbasis masalah atau penemuan, guru mengajukan pertanyaan atau masalah kepada siswa dan memperbolehkan siswa untuk menemukan ide dan teori mereka sendiri.
C.      Sintaks Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Menurut Fibrayir (2012), berbagai pengembang pembelajaran berbasis masalah telah menunjukkkan ciri-ciri pengajaran berbasis masalah sebagai berikut.
1.      Pengajuan masalah atau pertanyaan
Pengajaran berbasis masalah bukan hanya mengorganisasikan prinsip-prinsip atau ketrampilanakademik tertentu, pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran di sekitar pertanyaan dan masalah yang kedua-duanya secara sosial penting dan secara pribadi bermaknauntuk siswa. Mereka dihadapkan situasi kehidupan nyata yang autentik, menghindari jawaban sederhana, dan memungkinkan adanya berbagai macam solusi  untuk situasi itu. Menurut Arends (dalam Abbas, 2000:13),  pertanyaan dan masalah yang diajukan haruslah memenuhi kriteria  sebagai berikut.
a.       Autentik. Yaitu masalah harus lebih berakar pada kehidupan  dunia nyata siswa dari pada berakar pada prinsip-prinsip  disiplin ilmu tertentu.
b.      Jelas.Yaitu masalah dirumuskandengan jelas, dalam arti tidak  menimbulkan masalah baru bagi siswa yang pada akhirnya  menyulitkan penyelesaian siswa.
c.       Mudah dipahami. Yaitu masalah yang diberikan hendaknya mudah dipahami siswa. Selain itu masalah disusun dan dibuat  sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
d.      Luas dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Yaitu masalah  yang disusun dan dirumuskan hendaknya bersifat luas, artinya masalah tersebut mencakup seluruh materi pelajaran yang akan diajarkan sesuai dengan waktu, ruang dan sumber yang  tersedia. Selain itu, masalah yang telah disusun tersebut harus  didasarkan pada tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
e.       Bermanfaat. Yaitu masalah yang telah disusun dan dirumuskan haruslah bermanfaat, baik siswa sebagai pemecah masalah maupun guru sebagai pembuat masalah. Masalah yang  bermanfaat adalah masalah yang dapat meningkatkan kemampuan berfikir memecahkan masalah siswa, serta membangkitkan motivasi belajar siswa.
2.      Berfokus pada keterkaitan antar disiplin
Meskipun pengajaran berbasis masalah mungkin berpusat pada  mata pelajaran tertentu (IPA, Matematika, Ilmu-ilmu Sosial), masalah yang akan diselidiki telah yang dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
3.      Penyelidikan autentik
Pengajaran berbasis masalah siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata. Mereka harus menganalisis dan mendefinisikan masalah, mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melakukan eksperimen (jika  diperlukan), membuat inferensi dan merumuskan kesimpulan. Metode penyelidikan yang digunakan bergantung pada masalah  yang sedang dipelajari.
4.      Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
Pengajaran berbasis masalah menuntut siswa untuk menghasilkan  produk tertentu dalam bentuk karya nyata atau artefak dan peragaan yang menjelaskan atau mewakili bentuk penyelesaian masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa transkipdebat, laporan, model fisik, video atau program komputer.
Pengajaran berbasis masalah dicirikan oleh siswa bekerja sama  satu sama lain (paling sering secara berpasangan atau dalam kelompok kecil). Bekerja sama memberikan motivasi untuk secara berkelanjutan terlibat dalam tugas-tugas kompleks dan memperbanyak peluang untuk berbagi inkuiri dan dialog dan untuk mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berfikir.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah sebagai berikut: (Rusman, 2010).
Tabel 1. Sintaks Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
Tahapan
Tingkah Laku Guru
Tahap 1:
Orientasi siswa
kepada masalah
Guru menjelaskan tujuan
pembelajaran, menjelaskan logistik
yang dibutuhkan, memotivasi siswa
agar terlibat pada pemecahan masalah
yang dipilihnya.
Tahap 2:
Mengorganisasi
siswa untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan
dan mengorganisasikan tugas belajar
yang berhubungan dengan masalah
tersebut.
Tahap 3:
Membimbing
penyelidikan
individual dan
kelompok
Guru mendorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai,
melaksanakan eksperimen, untuk
mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalahnya
Tahap 4:
Mengembagkan dan
menyajikan hasil
karya
Guru membantu siswa merencanakan
dan menyiapkan karya yang sesuai
seperti laporan, video dan model serta
membantu mereka berbagi tugas
dengan temannya.
Tahap 5:
Menganalisis dan
mengevaluasi proses
pemecahan masalah
Guru membantu siswa melakukan
refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses-proses
yang mereka gunakan.

Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) memiliki beberapa keunggulan dan kelemahansebagai berikut :  (Ahsan, Arfiyadi, 2012)

Keunggulan

a.       Merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
b.      Dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.
c.       Dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa.
d.      Dapat membantu siswa bagaimana mentranfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
e.       Dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
f.       Pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai siswa.
g.      Dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir lebih kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan.
h.      Dapat memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
i.        Dapat mengembangkan minat siswa untuk secara terus-menerus belajar sekalipun belajar pada pendidikan formal telah berakhir.
j.        Dapat membentuk siswa untuk memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang dibarengi dengan kemampuan inovatif dan sikap kreatif akan tumbuh dan berkembang.
k.      Dengan model pembelajaran berbasis masalah, kemandirian siswa dalam belajar akan mudah terbentuk, yang pada akhirnya akan menjadi kebiasaan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ditemuinya dalam aktivitas kehidupan nyata sehari-hari ditengah-tengah masyarakat.

Kelemahan

1.      Mana kala siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2.      Keberhasilan model pembelajaran PBL ini membutuhkan cukup waktu untuk persiapan dan pelaksanaannya.
3.      Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.


TEKNIK PEMBELAJARAN DISKUSI

Pengertian Metode Diskusi 
Pada dasarnya metode diskusi memiliki banyak pengertian, berikut ini beberapa pengertian dari metode diskusi. a. Menurut Arief  (2002), metode diskusi adalah salah satu alternatif metode/cara yang dapat dipakai oleh seorang guru di kelas dengan tujuan dapat memecahkan suatu masalah berdasarkan pendapat siswa. b. Kamsinah (2008), menyatakan metode diskusi dapat diartikan sebagai jalan untuk memecahkan suatu permasalahan yang memerlukan beberapa jawaban alternatif yang mendekati kebenaran dalam proses pembelajaran. c. Nurhidayati (2011), menyatakan metode diskusi merupakan metode pembelajaran yang mengarahkan pembelajaran untuk berpusat pada siswa. d. Roestiyah N.K (1991) berpendapat bahwa metode diskusi adalah salah satu teknik belajar mengajar yang dilakukan oleh seorang guru di sekolah, dimana proses interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja.  e. Suryosubroto (1997), menyatakan bahwa metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, memberi kesimpulan atau penyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah. Berdasarkan beberapa pengertian metode diskusi di atas, dapat disimpulkan bahwa metode diskusi adalah metode pembelajaran yang menekankan kepada adanya interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru untuk mengumpulkan pendapat, menyimpulkan atau menemukan berbagai alternatif pemecahan suatu masalah agar tercapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelummya.  
Langkah-langkah Penggunaan Metode Diskusi
 Langkah-langkah penggunaan metode diskusi dalam mengajar adalah sebagai berikut.
 a. Pengajar memberi bahan atau topik untuk didiskusikan. Bahan yang diberikan dapat lebih dari satu, hal itu bergantung kepada kelancaran diskusi dan waktu yang tersedia, dan topik ini didiskusikan satu persatu.
b. Para peserta didik diberi kesempatan berpikir sejenak.
c. Para peserta didik mulai berkomunikasi satu dengan yang lain, satu persatu peserta didik mengeluarkan buah pikirannya atau dapat juga langsung terjadi dialog antar para peserta didik yang mnegeluarkan ide saja. Dari dialog ini bisa muncul suatu perdebatan, tetapi semua berlangtsung secara ilmiah.
d. Selama para peserta didik berdiskusi pengajar tetap mengamati proses diskusi itu. Pengajar memberi pengarahan bila tampak diskusi tersebut agak macet. Pengajar memperbaiki proses diskusi itu bila terjadi pelanggaran aturan dalam diskusi (berlangsung kurang ilmiah).
 e. Setiap bahan yang selesai didiskusikan, pengajar memberikan penilaian atau komentar kepada para peserta didik.
 f. Pengajar menjelaskan bahan yang sukar mendapatkan persamaan pendapat di kalangan para peserta didik.  
Menurut Suryosubroto (1997), langkah-langkah penggunaan metode diskusi adalah sebagai berikut 
a. Guru mengemukakan masalah yang akan didiskusikan, dan memberikan pengarahan seperlunya mengenai cara-cara pemecahannya.
b. Dengan bimbingan guru, siswa membentuk kelompok diskusi, memilih pimpinan diskusi, pelapor, dan pengaturan tempat duduk.
c. Para siswa berdiskusi di dalam kelompoknya masing-masing, sedangkan guru berkeliling dari kelompok satu ke kelompok lain, menjaga ketertiban, dan memberikan dorongan kepada para siswa, 
d. Setiap kelompok melaporkan hasil diskusinya, 
e. Para siswa mencatat hasil-hasil diskusi,  f. Guru mengumpulkan laporan hasil diskusi dari tiap kelompok. 
 Berdasarkan pemaparan langkah-langkah penggunaan metode diskusi dalam mengajar, dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga langkah-langkah utama dalam penggunaan metode diskusi dalam mengajar adalah sebagai berikut.
a. Penyajian, yaitu pengenalan terhadap masalah atau topik yang meminta pendapat, evaluasi dan pemecahan dari peserta didik.
 b. Bimbingan yaitu pengarahan yang terus-menerus dan secara bertujuan yang diberikan guru selama proses diskusi. Pengarahan ini diharapkan dapat menyatukan pikiran-pikiran yang telah dikemukakan.
 c. Pengikhtisaran, yaitu rekapitulasi pokok-pokok pikiran penting dalam diskusi. 
Prinsip Penggunaan Metode Diskusi Adapun beberapa prinsip penggunaan metode diskusi dalam mengajar, antara lain sebagai berikut.
 a. Perumusan masalah atau masalah-masalah yang   didiskusikan agar dilakukan bersama-sama dengan siswa.
 b. Menjelaskan   hakikat masalah itu disertai tujuan   mengapa masalah  tersebut dipilih untuk didiskusikan. 
c. Pengaturan peran siswa yang meliputi pemberian tanggapan, saran,  pendapat,   pertanyaan, dan   jawaban   yang   timbul untuk memecahkan masalah. 
d. Memberitahukan tata tertib diskusi.
 e. Pengarahan pembicaraan agar sesuai dengan tujuan.  f. Pemberian bimbingan siswa untuk mengambil kesimpulan.  
Kelebihan dan Kekurangan Metode Diskusi Setiap metode pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan, termasuk juga metode diskusi. Adapun kelebihan dan kekurangan metode diskusi adalah sebagai berikut.    
Kelebihan Metode Diskusi
 a. Mendidik siswa untuk belajar mengemukakan pikiran atau pendapat.
 b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh penjelasan-penjelasan dari berbagai sumber data.
c. Memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati pembaharuan suatu masalah bersama-sama.
 d. Memberi kesempatan kerjasama, siswa yang cenderung cerdas dapat membantu siswa yang cenderung lambat belajar.
 e. Merangsang siswa untuk ikut mengemukakan pendapat sendiri, menyetujui atau menentang pendapat teman-temannya.
f. Memberi kesempatan pada siswa untuk belajar menjadi pemimpin, baik dengan menjadi pemimpin kelompok maupun dengan mengamati perilaku pimpinan kelompok.
g. Membina suatu perasaan tanggung jawab mengenai suatu pendapat, kesimpulan, atau keputusan yang akan atau telah diambil.
h. Mengembangkan rasa solidaritas/toleransi terhadap pendapat yang bervariasi atau mungkin bertentangan sama sekali.
i. Berdiskusi bukan hanya menuntut pengetahuan, siap dan kefasihan berbicara saja tetapi juga menuntut kemampuan berbicara secara sistematis dan logis.
j. Dengan mendengarkan semua keterangan yang dikemukakan oleh pembicara, pengetahuan dan pandangan siswa mengenai suatu masalah akan bertambah luas. 
Kekurangan Metode Diskusi
a. Tidak semua topik dapat dijadikan metode diskusi hanya hal-hal yang bersifat problematis saja yang dapat didiskusikan.
b. Dalam situasi diskusi sulit menjamin tercapainya tujuan yang telah ditentukan dalam waktu yang telah direncanakan, situasi dapat berkembang bertele-tele, penuh perbedaan pendapat, bahkan jika koordinasi kepemimpinan diskusi tersebut lemah atau jelek situasinya dapat berkembang menjadi penuh konflik yang menyesatkan pencapaian tujuan pembelajaran.
 c. Diskusi yang mendalam memerlukan banyak waktu.
d. Sulit untuk menentukan batas luas atau kedalaman suatu uraian diskusi.
 e. Dalam diskusi mengkehendaki pembuktian logis, yang tidak terlepas dari fakta-fakta, dan tidak merupakan jawaban yang hanya dugaan atau coba-coba saja. Maka siswa dituntut kemampuan berpikir ilmiah, hal mana itu tergantung pada pada kematangan, pengalaman, dan pengetahuan siswa.
f. Kegiatan diskusi ini akan membawa hasil sebagaimana diharapkan jika para peserta diskusi (siswa) menguasai kemampuan yang memadai untuk diskusi sekaligus bersedia bersiap diri secara pantas sebelum masuk ke situasi diskusi.
 g. Selain penguasaan bahan diskusi, peserta diskusi (siswa) juga perlu menguasai keterampilan teknis dalam berdiskusi. Hal ini perlu dipelajari oleh siswa pada waktu sebelum dan di dalam situasi diskusi.
h. Biasanya tidak semua siswa berani menyatakan pendapat sehingga waktu akan terbuang karena menunggu siswa mengemukakan pendapat.
 i. Pembicaraan dalam diskusi mungkin didominasi oleh siswa yang berani dan telah biasa berbicara. Siswa pemalu dan pendiam tidak akan menggunakan kesempatan untuk berbicara. j. Proses serta hasil diskusi akan kurang memadai (semu) jika pemimpin diskusi kurang hasil dalam menciptakan situasi diskusi yang mendorong setiap siswa bebas berpendapat serta terbuka untuk menerima kebenaran yang diajukan siswa lian dan kurang berhasil memandu kelompok untuk aktif dalam analisis sintesis (selama berdiskusi) agar semakin dapat menggali kebenaran yang luas, mendalam, dan sistematis, perlu diakui bahwa sulit untuk menemukan seorang pemimpin diskusi yang berbobot (lebih-lebih diantara para siswa). 


TEKNIK PEMBELAJARAN TANYA JAWAB
Proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu pengajaran untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan berbagai pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran seharusnya menggunakan metode-metode pembelajaran.
Metode adalah cara yang digunakan oleh guru/peserta didik dalam mengolah informasi yang berupa fakta, data, dan konsep pada proses pembelajaran yang mungkin terjadi dalam suatustrategi.
Dengan demikian dalam proses pembelajaran terdapat hubungan yang erat antara strategi dan metode. Untuk mencapai hasil pembelajaran yang maksimal, diperlukan strategi pembelajaran yang tepat.Pada saat menetapkan strategi yang digunakan, guru harus cermat memilih dan menetapkan metode yang sesuai.
Tanya jawab sebagai salah satu metode alternatif yang menuntut keaktifan murid dalam belajar secara total dan tuntas. Didalamnya mencakup penggunaan metode penyampaian yang bervariasi, penggunaan media pembelajaran dan juga penggunaan motivasi dalam pelajaran. Hal ini secara langsung dapat mengatasi masalah yang timbul dalam proses belajar mengajar.
Dalam pembahasan akan membahas tentang metode tanya jawab dan semua yang terkandung didalamnya beserta penerapannya. Metode ini merupakan salah satu metode yang bisa dipakai untuk mewujudkan tujuan tersebut.
Pengertian Metode Tanya Jawab
Kata metode merupakan suatu tata cara untuk melakukan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan tertentu, maka dengan demikian metode pembelajaran adalah suatu tata cara yang berhubungan erat dengan pelaksanaan proses pembelajaran. Metode digunakan guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan.
Dari beberapa pengertian tersebut, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu cara yang digunakan guru dalam interaksi dengan peserta didik pada saat proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.Metode pembelajaran yang digunakan membawa pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap pencapaian hasil yang diharapkan, baik berupa perubahan pengetahuan, perilaku dan keterampilan. Oleh karena itu, metode pembelajaran memegang peranan penting dan merupakan satu kunci keberhasilan proses belajar mengajar yang diselenggarakan.Kualitas belajar peserta didik dapat dicapai dengan menggunakan metode pembelajaran yang efektif, karena metode pembelajaran merupakan salah satu faktor yang mendukung terhadap keberhasilan belajar di samping faktor-faktor lainnya, seperti bahan pelajaran, kondisi belajar dan lain sebagainya.
Metode tanya jawab adalah suatu carapenyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.
Metode tanya jawab dapat pula diartikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan bahan pelajaran dalam bentuk pertanyaan dari guru yang harus dijawab oleh siswa
Metode tanya jawab merupakan salah satu cara panyampaian pelajaran kepada siswa dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa apabila ada pertanyaan dari guru atau sebaliknya.
Metode tanya jawab dapat pula diartikan sebagai format interaksi antara guru-siswa melalui kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru untuk mendapatkan respons lisan dari siswa, sehingga dapat menumbuhkan pengetahuan guru pada diri siswa.
Dari beberapa pernyataan tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa metode tanya jawab adalah cara penyajian bahan pelajaran dalam proses pembelajaran yang berbentuk pertanyaan yang harus dijawab, sehingga terjadi interaksi dua arah antara guru danpeserta didikuntuk memperoleh pengalaman guru pada peserta didik.
Penggunaan metode tanya jawab bermanfaat agar peserta didik lebih termotivasi untuk belajar selama proses pembelajaran, sehingga baik guru atau peserta didik sama-sama aktif dalam proses pembelajaran.

Langkah-Langkah Penggunaan Metode Tanya Jawab
Untuk menghindari penyimpangan dari pokok persoalan, penggunaan metode tanya jawab harus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut :
a.              Merumuskan tujuan tanya jawab sejelas-jelasnya dalam bentuk tujuan khusus dan berpusat pada tingkah laku peserta didik.
b.             Mencari alasan pemilihan metode tanya jawab.
c.              Menetapkan kemungkinan pertanyaan yang akan dikemukakan.
d.             Menetapkan kemungkinan jawaban untuk menjaga agar tidak menyimpang dari pokok persoalan.
e.              Menyediakan kesempatan bertanya bagi peserta didik.
Berdasarkan langkah-langkah yang di atas, maka tindakan guru dalam menggunakan metode tanya jawab harus dipersiapkan secermat mungkin dalam bentuk rencana pengajaran yang detail dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1.             Menyebutkan alasan penggunaan metode tanya jawab.
2.             Mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
3.             Menyimpulkan jawaban peserta didik sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus.
4.             Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya pada hal-hal yang belum dipahami.
5.             Memberi pertanyaan atau kesempatan kepada peserta didik untuk bertanya pada hal-hal yang sifatnya pengembangan atau pengayaan.
6.             Memberi kesempatan pada peserta didik untuk menjawab pertanyaan yang relevan dan sifatnya pengembangan atau pengayaan.
7.             Menyimpulkan materi jawaban yang relevan dengan tujuan pembelajaran khusus.
8.             Memberi tugas kepada peserta didik untuk membaca materi berikutnya di rumah dan menulis pertanyaan yang akan diajukan pada pertemuan berikutnya.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan tanya jawab adalahseorang guru dalam memberikan tanya jawab harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.         Ciri pertanyaan yang baik antara lain :
1)        Merangsang siswa untuk berpikir.
2)        Jelas dan tindak menimbulkan banyak penafsiran.
3)        Singkat dan mudah dipahami siswa.
4)        Disesuaikan dengan kemampuan siswa.

b.        Teknik mengajukan pertanyaan antara lain :
1)      Pertanyaan ditujukan pada seluruh siswa.
2)      Memberi waktu yang cukup kepada siswa untuk berpikir.
3)      Usahakan setiap siswa diberikan giliran menjawab.
4)      Dilakukan dalam suasana rileks, tidak tegang.

c.         Sikap guru terhadap jawaban siswa antara lain :
1)        Tafsirkan jawaban siswa ke arah yang baik.
2)        Hargai secara wajar sekalipun jawaban siswa kurang tepat.
3)        Pada saat tertentu berikan kesempatan kepada siswa lain untuk menilai jawaban yang diberikan temannya.
d.  Sikap guru terhadap pertanyaan siswa antara lain :
1)        Memberikan keberanian kepada siswa untuk bertanya.
2)        Pertanyaan siswa perlu disusun secara keseluruhan.
3)        Pertanyaan harus sesuai dengan tata tertib.

Prinsip Metode Tanya Jawab
Selain menggunakan langkah-langkah dari metode tanya tersebut seorang guru harus mengetahui dan melakukan beberapa prinsip penggunaan metode tanya jawab diantaranya yaitu:
a.  Penyebaran (distribution)
Agar peserta didik banyak berpartisipasi pada suatu kegiatan belajar mengajar sebaiknya guru menyebarkan giliran menjawab pertanyaan secara acak dan kalau perlu secara merata.
b.  Pemberian waktu berfikir (pausing)
Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru sepatutnya memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berfikir sejenak kemudian baru menunjuk salah seorang peserta didik untuk menjawab pertanyaan tersebut.
c.  Penggunaan pertanyaan pelacak (probbing)
Suatu saat guru ingin meningkatkan jawaban peserta didiknya.Untuk itu dapat digunakan teknik probbing (pelacak) agar jawaban peserta didik meningkat menjadi lebih sempurna. Adapun teknik pelacak yang dapat digunakan adalah sebagai berikut :
1)   Klasifikasi
Kalau peserta didik menjawab pertanyaan guru dengan kalimat kurang jelas atau kurang tepat kata-katanya, guru dapat memberikan pertanyaan pelacak yang meminta peserta didik tersebut menjelaskan atau mengatakan dengan kata- kata lain sehingga jawabanpeserta didik tersebut menjadi lebih baik.
2)  Meminta peserta didik memberikan alasan
Guru dapat menyuruh peserta didik mengemukakan alasan atau pendapat yang telah dikemukakan dalam menjawab pertanyaan.
3)  Meminta kesepakatan pandangan
Suatu saat guru dapat meminta kepada para peserta didik untuk memberikan pandangan atas jawaban yang dikemukakan oleh teman mereka. Peserta didik yang lain dapat menerima atau menolak pandangan tersebut atau menambahkan sehingga diperoleh kesempatan jawaban yang disetujui bersama.
4)  Meminta ketepatan jawaban
Bila jawaban peserta didik kurang tepat, guru dapat meminta peserta didik untuk meninjau kembali jawaban itu, agar diperoleh jawaban yang tepat dengan mengajukan pertanyaan pelacak.Tentu saja pertanyaan tersebut tidak boleh membuat siswa malu atau rendah diri. Andaikata akan menyebabkan peserta didik malu, lebih baik guru menggunakan teknik pemindahan giliran.
5)  Meminta jawaban yang lebih relevan
Jika jawaban siswa kurang relevan dengan pertanyaan guru, sebaiknya tidak secara spontan memotongnya. Melainkan guru dapat mengajukan pertanyaan yang memungkinkan peserta didik menilai kembali jawabannya, atau mengemukakannya kembali dengan kata- kata lain sehingga jawaban tersebut relevan dan benar.


6)  Meminta Contoh
Apabila seorang peserta didik memberikan jawaban samar- samar atau terlalu luas, guru dapat meminta peserta didik itu untuk memeberikan ilustrasi atau contoh konkret tentang apa yang dimaksudnya.
7)  Meminta jawaban yang lebih kompleks
Kalau guru menganggap jawaban peserta didik terlalu sederhana dan ingin ditingkatkan lebih mendalam, maka guru dapat meminta peserta didik untuk memberi penjelasan lebih lanjut tentang pendapatnya tadi.

Kekurangan dan Kelebihan Metode Tanya Jawab
Suatu metode yang digunakan oleh guru dalam mengajar sudah barang tentu mempunyai keunggulan dan kekurangan, begitupun dengan metode tanya jawab. Berikut keunggulan dan kekurangan metode tanya jawab :
a. Keunggulan metode tanya jawab
1.        Kelas akan hidup karena anak didik aktif berfikir dan menyampaikan pikiran melalui berbicara.
2.        Baik sekali untuk melatih anak didik agar berani mengemukakan pendapatnya.
3.        Akan membawa kelas kedalam suasana diskusi.
b. Kelemahan metode tanya jawab:
1.        Dengan tanyajawab kadang-kadang pembicaraan menyimpang dari pokok   persoalan bila dalam mengajukan pertanyaan, siswa menyinggung hal-hal lain walaupun masih ada hubungannya dengan pokok yang dibicarakan. Dalam hal ini sering tidak terkendalikan sehingga membuat persoalan baru.
2.        Membutuhkan waktu yang banyak dalam proses tanya jawab dari guru untuk siswa.
2.5 Contoh Penerapan Metode Tanya Jawab
Contoh penerapan metode tanya jawab dalam pembelajaran, terdapat dalam pelajaran matematika.Berikut merupakan contoh RPP(Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran)dari metode tanya jawab :

Satuan Pendidikan                  : Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Mata Pelajaran                        : Matematika
Kelas/Semester                        : VII (Tujuh)/ 2 (dua)
Alokasi Waktu                        : 2 x 45 Menit
Standar Kompetensi               : Menggunakan konsep himpunan dan diagram Venn dalam pemecahan masalah
Kompetensi Dasar                   : 4.4 Menyajikan himpunan dengan diagram Venn
Indikator                                 : 1. Mengenal Diagram Venn
                                                 2. Menentukan irisan dan gabungan dua himpunan
3. Menyajikan irisan dan gabungan dua himpunan dalam diagram Venn

A.   Tujuan Pembelajaran
1.    Siswa dapat menyebutkan langkah-langkah dalam membuat diagram Venn
2.    Siswa dapat menentukan anggota-anggota irisan dan gabungan dari dua himpunan
3.    Siswa dapat menyajikan irisan dan gabungan dua himpunan dengan diagram Venn.
B.    Materi Prasyarat
1.    Pengertian himpunan
2.    Menyatakan himpunan
3.    Himpunan Semesta
C.    Model dan Metode Pembelajaran
1.         Model           : Pembelajaran langsung dengan ICT
2.         Metode         : Tanya jawab dan diskusi
D.   Langkah-langkah Pembelajaran
1.     Kegiatan Awal (Pendahuluan)
-        Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada materi yang akan diajarkan
-        Guru memberikan beberapa pertanyaan tentang materi sebelumnya untuk mengetahui kemampuan prasyarat siswa
2.     Kegiatan Inti
Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
¨    Menjelaskan pengertian irisan dan gabungan dari dua himpunan serta memberikan beberapa contoh soal yang berkaitan dengan irisan dan gabungan dua himpunan.
¨    Memperhatikan penjelasan guru dengan sebaik-baiknya tentang irisan dan gabungan dua himpunan.
¨    Meminta siswa untuk bertanya jika ada yang belum memahami tentang materi yang telah dijelaskan.
¨    Mengajukan pertanyaan kepada guru jika ada materi irisan dan gabungan dua himpunan yang belum dipahami.
¨    Menjelaskan langkah-langkah dalam membuat diagram Venn serta memberikan beberapa contoh soal yang berkaitan dengan cara menggambar diagram Venn dari dua himpunan.
¨    Memperhatikan penjelasan guru dengan sebaik-baiknya tentang cara membuat diagram Venn dari irisan dan gabungan dua himpunan.
¨    Meminta siswa untuk bertanya jika ada yang belum memahami cara menggambar diagram Venn dua himpunan.
¨    Mengajukan pertanyaan kepada guru jika ada yang belum jelas tentang cara menggambar diagram Venn irisan dan gabungan dua himpunan.
¨    Membagikan Lembar Kegiatan Siswa yang telah dipersiapkan oleh guru untuk dikerjakan oleh siswa.
¨    Menerima Lembar Kegiatan Siswa yang telah dipersiapkan oleh guru.
¨    Meminta siswa untuk mengerjakan soal-soal yang ada dalam Lembar Kegiatan Siswa dengan sebaik-baiknya.
¨    Mengerjakan soal-soal yang ada dalam Lembar Kegiatan Siswa dengan sebaik-baiknya.

Kegiatan Guru
Kegiatan Siswa
¨    Memberikan bimbingan dan bantuan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam menjawab soal yang ada dalam LKS.
¨    Bertanya kepada guru jika mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal yang ada dalam LKS.
¨    Meminta beberapa siswa untuk menampilkan hasil kerjanya di papan tulis.
¨    Menuliskan hasil kerjanya di papan tulis.
¨    Meminta siswa lain untuk menanggapi hasil pekerjaan temannya yang ada di papan tulis.
¨    Memberikan tanggapan terhadap pekerjaan temannya yang ada di papan tulis.
¨    Bersama-sama siswa membahas penyelesaian yang paling tepat untuk soal-soal yang telah dikerjakan.
¨    Mengikuti pembahasan soal-soal yang dilakukan guru dan memberikan tanggapan untuk penyelesaian soal-soal yang paling tepat.

3.       Kegiatan Akhir (Penutup)
-        Guru bersama-sama siswa membuat rangkuman tentang materi yang telah dipelajari pada hari itu.
-        Guru memberikan soal-soal untuk dikerjakan siswa di rumah.
E.    Sumber Belajar
1.         Buku Matematika SMP Kelas VII Penerbit Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional
2.         Buku Matematika SMP Kelas VII yang relevan dengan materi yang dipelajari
F.    Penilaian
1.         Teknik                                   : Tes Harian
2.         Bentuk Instrumen                 : Soal Uraian
3.         Soal/Instrumen                      :
1)      Diketahui dua himpunan A = {1, 2, 3, 4, 6, 12} dan B = {2, 4, 6, 8, 10}.
Tentukan :
a.         Irisan dari himpunan A dan B ( A Ç B )
b.         Gabungan dari himpunan A dan B ( A È B )
2)   Diketahui P = { huruf-huruf pembentuk kata “matematika” } dan Q = { huruf-huruf pembentuk kata “merdeka” }. Tentukan
a.         P Ç Q
b.         P È Q
3)   Diketahui M = {kelipatan 3 yang habis dibagi 2 dan kurang dari 30} danN = {faktor dari 24}. Tentukan :
a.       M È N
b.      M Ç N
4)   Diketahui C = {1, 2, 3, 4, 5, 6} dan D = {2, 4, 6, 8}. Gambarkan kedua himpunan tersebut dalam diagram Venn !
5)    Diketahui K = {x | 3 < x £ 15, x Î bilangan prima} dan L = {x | x ³ 10, x Î bilangan asli }.
a.       Tuliskan anggota-anggota himpunan K
b.      Tuliskan anggota-anggota himpunan L
c.       Gambarkan diagram Venn untuk himpunan K dan L

Palembang,    September 2012
Mengetahui
Kepala Sekolah                                               Guru Mata Pelajaran Matematika

_______________________                                                  Yeni Muliana
NIP :                                                                                       NIP :



Diketahui S = { 1, 2, 3, . . ., 10}
A = Himpunan bilangan ganjil yang tidak lebih dari 10
B = Himpunan bilangan genap antara 1 dan 10
Tentukan :
a.         Anggota – anggota himpunan A
b.         Anggota – anggota himpunan B
c.         Irisan dari himpunan A dan B
d.        Gabungan dari himpunan A dan B
e.         Gambarkan diagram Venn-nya
f.          Adakah irisan dari kedua himpunan tersebut ? Apa yang dapat kamu simpulkan ?
Penyelesaian :
a.         __________________________________________________________________________________________________________________________________
b.         __________________________________________________________________________________________________________________________________
c.         __________________________________________________________________________________________________________________________________
d.        __________________________________________________________________________________________________________________________________
e.         ____________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Diketahui S = Himpunan bilangan asli
            C = Himpunan bilangan asli yang kurang dari 6
            D = Himpunan lima bilangan asli yang pertama
Tentukan :
a.       Anggota – anggota S
b.      Anggota – anggota C
c.       Anggota – anggota D
d.      Gambarkan diagram Venn-nya
e.       Adakah irisan dari kedua himpunan tersebut ? Apa yang dapat kamu simpulkan ?
Penyelesaian :
a.       ____________________________________________________________________________________________________________________________

TEKNIK PEMBELAJARAN PENUGASAN

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEieLGJ1mYSD18_TeNmmLHOFEvVgLJ3mOpK89m7rM_3j950YGM2kQaa5S2OPE1YjHFoKssbNvX5dzqTNN33eJtLhS9pavewNUypBXGEhunvxH_XobwlBSxCS3IBTHduHO5UA8FsGXUdBpfU/s1600/metode+resitasi+2.jpg https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjwS_2hgAT5a46YjxR40INTFEHd54YqtbjgC2j3uAdscsysoUKmplDRPw6VrDcPlGK8TW0uTjmphTuCs_LyCaq3I3Rg1zq2_S_Gx4Xpsnp4_00Gn3RSVuww8ohudbOxHjllh17y8tadmuM/s1600/metode+resitasi.jpg
Tugas merupakan refleksi kehidupan. Setiap orang dalam hidupnya sehari-hari tak terlepas dari tugas-tugas yang seyogyanya dikembangkan dalam kehidupan di sekolah sebagai persiapan memasuki dunia kerja yang penuh denan berbagai tugas kelak. Sebab barang tentu tugas yang diberikan adalah yang berhubungan dengan topic yang sedang dan atau dipelajarai.



A. Pengertian Metode Penugasan / Resitasi 

Salah satu metode yang digunakan dalam pembelajaran adalah metoderesitasi terstruktur. Imansjah Alipandie (1984:91) dalam bukunya yang berjudul “Didaktik Metodik Pendidikan Umum” mengemukakan bahwa :”Metode resitasiterstruktur adalah cara untuk mengajar yang dilakukan dengan jalan memberi tugas khusus kepada siswa untuk mengerjakan sesuatu di luar jam pelajaran. Pelaksanaannya bisa dirumah, diperpustakaan, dilaboratorium, dan hasilnya dipertanggungjawabkan.”

Menurud Sudirman. N, (1991:141). Pengertian metode penugasan/ resitasiadalah cara penyajian bahan pelajaran di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar 

Sedangkan Slameto (1990:115) mengemukakan :Metode resitasi terstruktur adalah cara penyampaian bahan pelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan dalam rentangan waktu tertentu dan hasilnya harus dipertanggungjawabkan kepada guru. 

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa metode resitasi terstruktur adalah pemberian tugas kepada siswa di luar jadwal sekolah atau diluar jadwal pelajaran yang pada akhirnya dipertanggungjawabkan kepada guru yang bersangkutan.

Metode resitasi terstruktur merupakan salah satu pilihan metode mengajar seorang guru, dimana guru memberikan sejumlah item tes kepada siswanya untuk dikerjakan di luar jam pelajaran. Pemberian item tes ini biasanya dilakukan pada setiap kegiatan belajar mengajar di kelas, pada akhir setiap pertemuan atau akhir pertemuan di kelas.

Pemberian tugas ini merupakan salah satu alternatif untuk lebih menyempurnakan penyampaian tujuan pembelajaran khusus. Hal ini disebabkan oleh padatnya materi pelajaran yang harus disampaikan sementara waktu belajar sangat terbatas di dalam kelas. Dengan banyaknya kegiatan pendidikan di sekolah dalam usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pelajaran, maka sangat menyita waktu siswa utnuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar tersebut. Rostiyah (1991:32) menyatakan bahwa untuk mengatasi keadaan seperti diatas, guru perlu memberikan tugas-tugas diluar jam pelajaran. Sumiati Side (1984:46) menyatakan bahwa pemberian tugas-tugas berupa PR mempunyai pengaruh yang positif terhadap peningkatan prestasi belajar Bahasa Indonesia.

Salah satu strategi belajar Bahasa Indonesiayang baik adalah memperbesar frekuensi pengulangan materi/ dengan memperbanyak latihan soal-soal sehingga menjadi suatu keterampilan yang dapat melatih diri mendayagunakan pikiran.

Tampaknya pemberian tugas kepada siswa untuk diselesaikan di rumah, di laboratorium maupun diperpustakaan cocok dalam hal ini, karena dengan tugasini akan merangsang siswa untuk melakukan latihan-latihan atau mengulangi materi pelajaran yang baru didapat disekolah atau sekaligus mencoba ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya, serta membiasakan diri siswa mengisi waktu luangnya di luar jam pelajaran. Dengan sendirinya telah berusaha memperdalam pemahaman serta pengertian tentang materi pelajaran. 

Teori Stimulus-Respon (S – R) mendukung dalam hal ini yaitu : Prinsip utama belajar adalah pengulangan. Bila S diberikan kepada obyek maka terjadilah R. Dengan latihan, asosiasi antara S dan R menjadi otomatis. Lebih sering asossosiasi antara S dan R digunakan makin kuatlah hubungan yang terjadi, makin jarang hubungan S dan R dipergunakan makin lemahlah hubungan itu (Herman Hudoyo, 1990 : 5).

Di dalam suatu kelas, tingkat kemampuan siswa cukup heterogen, sebagian dapat langsung mengeri pelajaran hanya satu kali penjelasan oleh guru, sebagian dapat mengerti bila diulangi dua atau tiga kali materinya dan sebagian lagi baru dapat mengerti setelah diulangi di rumah atau bahkan tidak dapat mengerti sama sekali.

Umumnya seorang guru mengatur kecepatan mengajarnya sesuai dengan keadaan rata-rata siswa dengan beberapa penyesuaian terhadap yang kurang mampu ataupun yang dianggap pandai. Walaupun demikian kemungkinan sebagian besar siswa cara belajarnya belum sesuai benar, bagi mereka masa belajar di kelas merupakan ajang untuk memulai materi. Pemberian tugas-tugas untuk diselesaikan di rumah, diperpustakaan maupun di laboratorium akan memberikan kesempatan untuk belajar aktif yang sesuai dengan irama kecepatan belajarnya. Hal ini merupakan pengalaman belajar yang sejati bagi individu yang bersangkutan.

Memberikan tugas-tugas kepada siswa berarti memberi kesempatan untuk mempraktekkan keterampilan yang baru saja mereka dapatkan dari guru disekolah, serta menghafal dan lebih memperdalam materi pelajaran. Peranan penugasan kepada siswa sangat penting dalam pengajaran, hal ini dijelaskan oleh I. L. Pasaribu :Metode tugas merupakan suatu aspek dari metode-metodemengajar. Karena tugas-tugas meninjau pelajaran baru, untuk menghafal pelajaran yang sudah diajarkan, untuk latihan-latihan, dengan tugas untuk mengumpulkkan bahan, untuk memecahkan suatu masalah dan seterusnya (I. L. Pasaribu, 1986:108)

Dalam memberikan tugas kepada siswa, guru diharuskan memeriksa dan memberi nilai. Rostiyah (1991:113) mengemukakan bahwa dengan mengevaluasi tugas yang diberikan kepada siswa, akan memberi motivasi belajar siswa.

Adapun prosedur metode resitasi terstruktur yang perlu diperhatikan dalam melakukan pengajaran antara lain : memperdalam pengertian siswa terhadao pelajaran yang telah diterima, melatih siswa ke arah belajar mandiri, dapat membagi waktu secara teratur, memanfaatkan waktu luang, melatih untuk menemukan sendiri cara-cara yang tepat untuk menyelesaikan tugas dan memperkaya pengalaman di sekolah melalai kegiatan di luar kelas (Sri Anitah Wiryawan, 1990:30).
Selanjutnya, metode resitasi terstruktur ini dianggap efektif Imansyah Alipandie bila hal-hal berikut ini dapat dilaksanakan yaitu : merumuskan tujuan khusus yang hendak dicapai, tugas yang diberikan harus jelas, waktu yang disediakan untuk menyelasaikan tugas harus cukup (Imansyah Alipandie, 1984:93). Sudirman (1992:145) dalam bukunya yang berjudul “Ilmu Pendidikan” langkah-langkah yang ditempuh dalam pendekatan pelaksanaan metode resitasiterstruktur yaitu :
1. Tugas yang diberikan harus jelas
2. Tempat dan lama waktu penyelesaian tugas harus jelas.
3. Tugas yang diberikan terlebih dahulu dijelaskan/diberikan petunjuk yang jelas, agar siswa yang belum mampu memahami tugas itu berupaya untuk menyelesaikannya.
4. Guru harus memberikan bimbingan utamanya kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar atau salah arah dalam mengerjakan tugas.
5. Memberi dorongan terutama bagi siswa yang lambat atau kurang bergairah mengerjakan tugas (Sudirman, 1992 : 145)



B. Kelebihan Metode Penugasan / Resitasi:
1) Tugas lebih merangsang siswa untuk untuk belajar lebih banyak , baik pada waktu di kelas maupun di luar kelas.
2) Metode ini dapat mengembangkan kemandiria siswa yang diperlukan kehidupan kelak.
3) Tugas dapat lebih meyakinkan tentang apa yang dipelajari dari guru, lebih memperdalam , memperkaya atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari.
4) Tugas dapat membina kebiasaan siswa untuk mencari dan mengolah sendiri imformasi dan komunikasi.
5) Metode ini dapat membuat siswa bergairah dalam belajar karena kegiatan belajar dilakukan dengan berbagai variasi sehingga tidak membosankan. (Sudirman Dkk, 1991 : 142 ).

Metode resitasi terstruktur mempunyai kelebihan dan kelemahan dalam proses belajar mengajar. Adapun kelebihan metode resitasi terstruktur adalah anak menjadi terbiasa mengisi waktu luangnya, memupuk rasa tanggung jawab, melatih anak berfikir kritis, tekun, giat dan rajin. Sedangkan kelemahan metoderesitasi terstruktur antara lain : tidak jarang pekerjaan yang ditugaskan itu diselesaikan dengan jalan meniru, karena perbedaan individual anak tugasdiberikan secara umum mungkin beberapa orang diantaranya merasa sukar sedang yang lain merasa mudah menyelesaikan tugas itu dan apabila tugassering diberikan maka ketenangan mental pada siswa terpengaruh (Imanjah Alipandie, 1984:92)


C. Kekurangan dari Metode Resitasi

Kekuarangan dari metode penugasan/resitasi:
1) Siswa sulit dikontrol, apa benar mengerjakan tugas ataukan orang lain
2) Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa.
3) Sering memberikan tugas yang monoton, sehingga membosankan

Dalam memberikan tugas yang baik, guru hendaklah memperhatikan dan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
a. Materi tugas yang diberikan atau pekerjaan yang perlu diselesaikan oleh siswa haraus jelas.
b. Tujuan tugas yang diberikan akan lebih baik apabila dijeaskan kepada siswa
c. Apabila tugas kelompok , seyogyanya ada ketua dan anggota kelompok sesuai dengan kebuituhan agar ada yang bertanggung jawab
d. Tempat dan lama waktu penyelesaian tugas hendaknya jelas.


TEKNIK PEMBELAJARAN DEMOSNTRASI
Metode atau method  berasal dari bahasa Yunani (Greek) yaitu metha dan hodos, metha berarti melalui atau melewati, dan hodos berarti: jalan atau cara. Jadi, metode berarti jalan atau cara yang harus dilalui untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indosesia metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan. Sedangkan demonstrasi pengertiannya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah peragaan atau pertunjukan tata cara melakukan atau mengerjakan sesuatu. Sehingga, metode demonstrasi dapat dikatakan sebagai suatu cara yang bersistem dalam mengajar dengan menggunakan suatu alat peraga atau pertunjukan untuk menunjang proses pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran.
            Menurut Prof.DR.H.Wina Sanjaya,M.Pd. (2006:152), metode demonstrasi adalah penerapan metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekedar tiruan. Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran siswa hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkrit. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
            Adapun pengertian metode demonstrasi yang dikemukakan oleh beberapa para ahli dapat dijabarkan sebagai berikut.
1.         Metode demonstrasi adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya (Syaiful, 2008:210).
2.         Metode demonstrasi adalah metode mengajar yang cukup efektif, karena membantu para siswa untuk memperoleh jawaban dengan mengganti suatu proses atau peristiwa tertentu (Ibrahim, 2003:106).
3.         Sementara menurut Syaiful Bahri Djamarah, (2000:2) bahwa metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan sesuatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkenaan dengan bahan pelajaran.
4.         Menurut Syaiful (2008:210) metode demonstrasi ini lebih sesuai untuk mengajarkan bahan-bahan pelajaran yang merupakan suatu gerakan-gerakan, suatu proses maupun hal-hal yang bersifat rutin. Dengan metode demonstrasi peserta didik berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan.
Metode demonstrasi ini merupakan metode yang sangat efektif karena membantu  peserta didik untuk mencari jawaban dengan usaha sendiri berdasarkan fakta yang benar. Selain itu metode demonstrasi baik digunakan untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses membuat sesuatu, proses bekerjanya sesuatu, proses mengajarkan atau menggunakannya, komponen-komponen yang membentuk sesuatu, membandingkan sesuatucara dengan cara lain, dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.

2.1  Langkah-Langkah Penggunaan Metode Demonstrasi

Adapun langkah-langkah model pembelajaran demonstrasi dapat dilihat pada Gambar 1.0 berikut.
Text Box: PELAKSANAAN
Text Box: - Langkah Pembukaan
- Langkah Pelaksanaan
- Langkah Penyelesaian
Text Box: - Merumuskan Tujuan
- Mempersiapkan Langkah Demonstrasi
- Uji Coba
 









Gambar 1.0 Langkah-langkah Penggunaan Metode Demonstrasi
A.    Tahap Persiapan
Pada tahap persiapan ini ada beberapa hal yang harus dilakukan antara lain:
1)      Rumuskan tujuan yang harus dicapai oleh peserta didik setelah proses demonstrasi berakhir. Tujuan ini meliputi beberapa aspek seperti aspek pengetahuan dan keterampilan tertentu.
2)      Persiapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kegagalan.
3)      Lakukan uji coba demonstrasi. Uji coba meliputi segala peralatan yang diperlukan.

B.     Tahap Pelaksanaan
1)      Langkah pembukaan
Sebelum demonstrasi dilakukan ada beberapa hal yang harus dilakukan antara lain sebagai berikut.
-          Mengatur tempat duduk yang memungkinkan semua peserta didik dapat melihat dengan jelas apa yang didemonstrasikan.
-          Mengemukakan tujuan yang harus dicapai peserta didik.
-          Mengemukakan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta didik, misalnya ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang penting dari pelaksanaan demonstrasi.
2)      Langkah pelaksanaan demonstrasi
-          Memulai demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang peserta didik untuk berpikir. Misalnya pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong peserta didik tertarik untuk memperhatikan demonstrasi.
-          Menciptakan suasana yang menyejukkan dan menghindari suasana yang menegangkan.
-          Meyakinkan bahwa semua peserta didik mengikuti jalannya demonstrasi dengan baik.
-          Berikan kesempatan kepada peserta didik untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi.
3)      Langkah mengakhiri demonstrasi
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri dengan memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran.
Adapun kemampuan guru yang perlu diperhatikan dalam menunjung keberhasilan demonstrasi di antaranya sebagai berikut.
  1. Mampu secara proses tentang topik yang dipraktekkan
  2. Mampu mengelola kelas, menguasai siswa secara menyeluruh
  3. Mampu menggunakan alat bantu yang digunakan
  4. Mampu melaksanakan penilaian proses
Kondisi dan kemampuan siswa yang harus diperhatikan untuk menunjang demonstrasi, diantaranya adalah sebagai berikut.
  1. Siswa memiliki motivasi, perhatian dan minat terhadap topik yang didemonstrasikan.
  2. Memahami tentang tujuan/maksud yang akan didemonstrasikan.
  3. Mampu mengamati proses yang dilakukan oleh guru.
  4. Mampu mengidentifikasi kondisi dan alat yang digunakan dalam demonstrasi.

2.2  Prinsip Metode Demonstrasi

Dengan metode demonstrasi berarti menyampaikan sesuatu dan berkomunikasi dengan orang lain, sehingga orang lain mengerti. Untuk itu diperlukan prinsip-prinsip sebagai berikut.
1.      Menciptakan hubungan yang baik  sehingga menarik perhatian peserta didik.
2.      Usahakan lebih jelas bagi orang yang sebelumnya tidak memahaminya
3.      Pikairkan pokok-pokok inti dari demonstrasi itu agar anak-anak benar-benar memahaminya.
4.      Demonstrasi dilaksanakan pada waktu yang tepat. Untuk melaksanakan demonstrasi, guru perlu memperhitungkan/menentukan waktu yang tepat agar demonstrasi benar-benar berjalan lancer tanpa ada hambatan. Guru dan siswa memiliki kesempatan yang luas untuk melaksanakan demonstrasi tanpa terdesak oleh sesuatu hal.
Menurut Prof.H.D.Sudjana S., S.Pd., M.Ed., PhD (2005 :157)metode demonstrasi akan tepat digunakan apabila:
a.       Kegiatan pembelajaran ditekankan pada pembinaan, perluasan atau pengembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik.
b.      Pendidik bermaksud untuk membelajarkan peserta didik melalui peragaan proses dan/atau peragaan hasil tertentu.
c.       Program belajar berkaitan dengan transformasi pengalaman praktis dan keterampilan tertentu.
d.      Pengorganissian peserta didik terbatas sehingga setiap kegiatan dilakukan paling banyak oleh sekitas 20 orang.
e.       Terdapat kebutuhan belajar dan sumber-sumber pendukung yang berkaitan dengan penggunaan teknik demonstrasi.
Metode demonstrasi dapat digunakan sebagai pendukung metode pembelajaran lainnya seperti metode ceramah bervariasi, perencanaan program dan pemecahan masalah kritis.

2.3  Kelebihan dan Kekurangan Metode Demonstrasi

Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2008:211) kelebihan dan kekurangan metode demonstrasi adalah sebagai berikut.
  1. Perhatian siswa dapat dipusatkan pada hal-hal yang dianggap penting oleh guru sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti. Di samping itu, perhatian siswa pun lebih mudah dipusatkan kepada proses belajar mengajar dan tidak kepada yang lainya.
  2. Dapat membimbing siswa ke arahberpikir yang sama dalam satu saluran pikiran yang sama.
  3. Ekonomis dalam jam pelajaran di sekolah dan ekonomis dalam waktu yang panjang dapat diperlihatkan melalui demonstrasi dengan waktu yang pendek.
  4. Dapat mengurangi kesalahan-kesalahan bila dibandingkan dengan hanya membaca atau mendengarkan, karena murid mendapatkan gambaran yang jelas dari hasil pengamatannya.
  5. Karena gerakan dan proses dipertunjukan maka tidak memerlukan keterangan-keterangan yang banyak.
  6. Beberapa persoalan yang menimbulkan petanyaan atau keraguan dapat diperjelas waktu proses demonstrasi.

  1. Derajat visibilitasnya kurang, peserta didik tidak dapat melihat atau mengamati keseluruhan benda atau peristiwa yang didemonstrasikan kadang-kadang terjadiperubahan yang tidak terkontrol.
  2. Untuk mengadakan demonstrasi digunakan alat-alat yang khusus, kadang-kadang alat itu susah didapat. Demonstrasi merupakan metode yang tidak wajar bila alat yang didemonstrasikan tidak dapat diamati secara seksama.
  3. Dalam mengadakan pengamatan terhadap hal-hal yang didemonstrasikan diperlukan pemusatan perhatian. Dalam hal ini banyak diabaikan oleh peserta didik.
  4. Tidak semua hal dapatdidemonstrasikan di kelas.
  5. Memerlukan banyak waku sedangkan hasilnya kadang-kadang sangat minimum.
  6. Kadang-kadang hal yang didemonstrasikan di kelas akan berbeda jika proses itu didemonstrasikan dalam situasi nyata atau sebenarnya.
  7. Agar demonstrasi mendapatkan hasil yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

RANGKUMAN SENYAWA KOMPLEKS